Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » AHY Lupa Sejarah

AHY Lupa Sejarah

(250 Views) Januari 13, 2021 8:29 am | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Pekan lalu, tepatnya Sabtu, 9 Januari 2021, ada dua peristiwa tragis melanda tanah air. Pertama jatuhnya pesawat terbang Sriwijaya Air SJ-182 dan bencana alam longsor, di Kecamatan Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat.

Dari dua peristiwa di atas sudah bisa dipastikan puluhan jiwa harus melayang. Dan, menjadi duka sangat mendalam bagi seluruh warga negara Indonesia. Kita hanya bisa berdoa, semoga seluruh korban tewas bisa diberikan tempat layak di akhirat dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ikhlas menerima cobaan ini. Aamiin.

Khusus pada kecelakaan pesawat terbang Sriwijaya Air SJ-182, ucapan bela sungkawa datang dari berbagai pihak. Mulai dari masyarakat biasa, pejabat negara hingga politisi. Sangat lumrah, mengingat peristiwa tersebut bisa disebut tragedi nasional dan diekspose besar-besaran oleh beragam media massa. Baik online, televisi maupun cetak.

Nah, dari sekian banyak pihak yang mengucapkan bela sungkawa tersebut diantaranya datang dari Ketua Umum Partai Demokrat. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Putra sulung Presiden RI ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini menyampaikan ucapan berkabung melalui cuitan di akun twitter pribadinya. Namun, di balik ucapan duka cita tersebut, ada hal menarik perhatian banyak pihak. AHY menyebut, tragedi pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jatuh seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah.

“Bencana ini menjadi peringatan bagi pemerintah dan kita semua untuk terus tingkatkan standar keselamatan transportasi di Indonesia. – Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),” tandasnya Minggu (10/1/2021). Dikutip dari Suara.com.

Entah cuitan itu ditulis dengan sadar atau tidak, yang pasti AHY langsung mendapat kecaman dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Yusuf Leonard Henuk. Malah, Yusuf tak segan melontarkan kata-kata menohok dan kasar.

“Yth Ketua Umum @PDemokrat, @AgusYudhoyono, @ProfYLH terpaksa harus buktikan memang kau bodoh sekali, karena sepanjang sejarah jatuhnya pesawat di Indonesia, tak pernah ada ‘Government Error’ penyebabnya, tapi ‘7 faktor’,” ujar Leonard seperti dikutip Suara.com.

“Maaf kau bodoh turunan, belajar lagi AHY!” tandasnya. (Suara.com).

Jika Yusuf terang-terangan menyebut AHY bodoh. Penulis lebih suka menyebut, pernyataan kakak kandung Ibas ini telah lupa akan sejarah.

Pernyataan AHY yang menyebut tragedi Sriwijaya Air SJ-182 ini sebagai peringatan terhadap pemerintah, seolah sedang menilai ada yang salah dengan kekuasaan Presiden Jokowi sekarang. Kalau memang itu maksudnya, AHY benar-benar telah melakukan blunder.

AHY harusnya lebih mampu mempertimbangkan matang-matang setiap statement-nya. Apalagi ini menyangkut pemerintahan, yang pernah dialami langsung ayahnya sendiri. SBY.

AHY lupa pada waktu pemerintahan SBY selama dua periode, dari tahun 2004 hingga 2014 telah cukup banyak tragedi yang merenggut banyak korban jiwa. Apa saja? Mari kita ingatkan kembali beberapa peristiwa naas tersebut.

Pertama, Tsunami Aceh 2004

Tragedi Tsunami Aceh yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 itu mungkin salah satu tragedi terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Betapa tidak, bencana alam ini telah merenggut ratusan ribu korban jiwa.

Kedua, Tsunami Panggandaran 2007

Meski tidak sedahsyat tragedi Aceh, Tsunami yang terjadi di Pantai Pangandaran tahun 2017 tersebut juga cukup memilukan. Ratusan korban jiwa dipastikan melayang dan puluhan orang lainnya dinyatakan hilang.

Ketiga, jatuhnya pesawat Adam Air 2007

Nah, pada zaman pemerintahan Presiden SBY pun pernah terjadi peristiwa jatuhnya pesawat terbang. Pesawat naas itu bernama Adam Air Boeing 747-400. Tragedi itu sendiri terjadi pada tahun 2007 silam. Pesawat yang jatuh di perairan Sulawesi itu menewaskan 102 orang.

Semua contoh di atas, benar-benar terjadi pada masa pemerintahan Presiden SBY yang memimpin negeri ini sejak 20 Oktober 2004 sampai 20 Oktober 2014. Pertanyaannya, masihkah AHY mengingat peristiwa itu dan beranikah dia bicara bahwa semua itu merupakan peringatan bagi pemerintahan kala itu? Rasanya tidak.

Boleh saja sebagai ketua umum partai, AHY coba menarik simpati publik sekaligus menyentil pemerintahan saat ini. Namun, harusnya dilakukan dengan cermat dan dipikirkan secara matang. Sebab, salah sedikit saja akibatnya fatal.

Contohnya sekarang, sebab emosinya yang mungkin terlalu ingin menyalahkan pemerintah, malah berbalik pada dirinya. Alih-alih mendapat simpati, yang ada malah menerima cibiran dan kecaman. Jika sudah begini, tidak menutup kemungkinan perjuangan AHY dalam upayanya mengembalikan kejayaan partai bakal semakin berat.

Mengutip dari pernyataan Presiden pertama Indonesia, Ir. Sukarno, ada satu pesan yang ingin disampaikan pada AHY. Yakni, Jas Merah, yang artinya jangan sekali-kali melupakan sejarah. (Elang Salamina)

Categorised in:

No comment for AHY Lupa Sejarah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan