Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Fiksi » AKU MANTAN JUGUN IANFU

AKU MANTAN JUGUN IANFU

(146 Views) Mei 11, 2022 11:04 pm | Published by | 2 Comments
iklan

Oleh : Arya Kusuma Mayangkara

Namaku Rusmini. Aku lahir tanggal 20 November 1927. Tiga bulan sebelum usiaku genap lima belas tahun, aku harus menelan kepahitan yang kubawa seumur hidup. Hari itu ayah dan ibuku sudah berangkat ke sawah sejak fajar menyingsing. Aku pergi mengambil air ke sungai untuk memasak, ketika tiba-tiba seorang tentara Jepang muncul dari semak-semak dan menerjang tubuhku dari belakang. Dia membekap mulutku lalu menyeretku pergi bersamanya.

Aku dibawa ke sebuah markas, di mana tentara-tentara Jepang itu menorehkan luka di tubuhku beramai-ramai. Tangisan dan teriakan minta tolong yang keluar dari mulutku tenggelam dalam tawa riuh dan sorak sorai yang membahana dari bibir mereka. Jeritanku bagai simfoni pengundang birahi yang membuat mereka makin beringas. Seolah-olah aku sedang dikeroyok sekawanan binatang buas.

Mulutku disumpal dengan kaos kaki kumal berbau penguk yang entah sudah berapa lama tidak dicuci. Sesekali mereka menampar pipiku jika aku meronta hendak melepaskan diri. Apalah daya seorang gadis kecil sepertiku dalam kepungan serigala-serigala lapar tak bermoral. Salah satu tentara meninju mata kiriku saat aku menangis. Perlahan-lahan pandangan mataku mengabur, lalu semuanya tiba-tiba gelap. Aku tak sadarkan diri karena tak tahan dengan siksaan demi siksaan yang mereka lakukan kepada diriku.

Tengah malam, aku terbangun dengan rasa sakit pada sekujur tubuhku. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat menahan tangis yang hampir meledak. Aku tak berani bersuara, takut mereka akan datang dan menodaiku lagi. Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit dalam hatiku karena kebiadaban mereka. Terbayang wajah kedua orang tuaku di pelupuk mata. Mungkin saat ini mereka sedang bingung mencariku. Andai mereka tahu apa yang telah aku alami di sini pastilah hati mereka hancur. Akibat kepalan tinju yang kuterima saat diperkosa, sejak saat itu aku tak bisa melihat apa pun dengan jelas dengan mata kiriku.

Seminggu kemudian, aku dipindahkan ke sebuah fasilitas militer. Di sana, terdapat ratusan gadis belia yang terkurung sepertiku. Siang dan malam kami dipaksa menjadi budak hasrat binatang ribuan tentara Jepang yang bertugas di sana.

Seorang tentara Jepang pernah berkata pada kami, “Jika kalian merelakan tubuh kalian untuk Kaisar yang agung, kalian akan diperlakukan dengan baik!”

Kenyataannya semua itu hanya omong kosong belaka. Setiap gadis rata-rata dipaksa melayani sepuluh orang tentara Jepang setiap malam tanpa istirahat. Nasib malang hinggap pada gadis-gadis yang berparas cantik. Mereka harus melayani lebih banyak lagi tentara Jepang yang ingin bersenang-senang dengan tubuhnya.

Kadang kala kami dipaksa melayani lebih dari dua puluh tentara. Jika menolak, mereka akan memukuli tubuh kami dengan sadis tanpa belas kasihan. Tak terhitung berapa jenis benda tajam yang mampir ke dalam area kewanitaan kami saat tentara-tentara itu melakukan penyiksaan.

Aku pernah mengalami pendarahan saat seorang tentara Jepang memasukkan sebatang korek api yang sedang menyala di bawah sana. Air mataku berlinang, saat itu aku berharap mati saja ketimbang disiksa terus menerus.

Suatu malam di bulan September, kami dikumpulkan di tengah lapangan. Semua gadis berbaris dengan kepala menunduk karena ketakutan. Kami tak sanggup membayangkan, siksaan apa lagi yang akan kami terima.

Komandan berseru lantang kepada kami, “Siapa yang sanggup melayani lima puluh orang tentara, cepat angkat tangan!”

Ada dua belas orang gadis yang tidak mengangkat tangannya. Mereka diseret ke depan. Pakaian lusuh yang membungkus tubuh-tubuh penuh luka itu dilucuti sampai tak tersisa selembar benang pun. Tubuh mereka didorong ke atas meja kayu yang penuh dengan paku, lalu ditekan dan digulingkan berkali-kali di atasnya. Darah segar mengucur membasahi papan dan tanah kering di bawah meja. Serpihan daging manusia menempel pada pucuk paku-paku itu. Sesudahnya, Komandan memenggal satu persatu kepala gadis-gadis yang telah wafat itu dengan sebilah pedang. Kilau pedang itu mengabur karena bersimbah darah segar. Pembantaian mereka di depan mata kami adalah hukuman setimpal bagi para pembangkang, sekaligus peringatan keras bagi kami semua yang masih tersisa.

Komandan tertawa melihat kami terisak, lalu dia berteriak,”Wanita-wanita penghibur ini menangis karena mereka ingin makan daging!”

Anak buah komandan merebus kepala-kepala teman kami itu dalam sebuah kuali yang sangat besar. Mereka menodongkan pedang ke leher kami dan memaksa kami meminum air kaldu panas dari rebusan kepala teman kami itu.

Bulan Desember, seorang gadis menghembuskan nafasnya setelah kemaluannya ditusuk dengan tongkat besi. Gadis itu dibantai karena tidak melapor bahwa dirinya terkena penyakit sipilis. Dia menularkan penyakit itu kepada beberapa orang tentara. Seorang tentara menusukkan tongkat besi yang dipanaskan hingga membara ke area terlarangnya. Gadis itu tewas seketika karena syok. Saat tongkat besi ditarik, bau gosong serpihan organ dalam yang terbakar ikut menempel pada ujung tongkat besi itu.

Enam bulan kemudian, kami dibawa ke Ibukota. Dalam setahun terakhir, sudah belasan gadis berusaha untuk melarikan diri tetapi selalu gagal. Tentara-tentara itu lalu menyiksa gadis-gadis yang tertangkap basah hendak kabur. Mereka menggali informasi tentang rencana apa yang kami miliki untuk keluar dari camp penyiksaan ini.

Saat sedang sendiri, aku sering menangis meratapi nasibku yang malang. Disiksa berbulan-bulan tanpa harapan hidup dan masa depan membuatku terpikir ingin mengakhiri hidup. Suatu hari, aku merasa sangat mual dan pusing. Bau-bau menyengat membuatku muntah-muntah. Aku merasa ada yang berbeda pada tubuhku.

Seorang dokter datang memeriksa, ternyata aku sedang mengandung anak dari salah satu tentara jahanam itu. Mereka masih saja menodaiku meski aku sedang berbadan dua. Saat usia kandunganku genap tujuh bulan, mereka membedah perut dan merenggut paksa bayi beserta rahimku. Setelah mereka mengambil cahaya di mata kiriku, mereka juga membuatku selamanya tak bisa mengandung seorang bayi lagi.

Pertengahan bulan Februari, mereka membawa kami ke tepi hutan dengan sebuah truk. Ada sebuah parit besar berisi puluhan ular berbisa yang sedang melata di dalamnya. Mereka menendang tubuh dua puluh tiga temanku satu persatu ke dalam parit, lalu mengubur mereka hidup-hidup. Sebagian dari kami lagi-lagi harus menyaksikan kekejaman itu. Aku memejamkan mata, sekuat tenaga menahan tangis. Takut jika tubuhkulah yang terjerembab berikutnya ke dalam parit pembantaian.

Sepulang dari sana, aku berbisik pada Surti sahabatku. Aku mengajaknya lari dari camp ini, tapi dia tidak bersedia karena takut ketahuan.

“Apakah kamu yakin akan lari, Mini?” tanya Surti.

“Aku sudah tak tahan lagi disiksa seperti ini, Ti. Lebih baik aku mati!” jawabku tegas dengan tangan terkepal. Sudah cukup penderitaan yang kualami. Aku harus keluar dari lubang neraka ini hidup atau mati.

Malamnya, saat hujan deras, aku mengendap-endap mendekati seorang penjaga yang sedang terkantuk-kantuk di posnya. Saat dia lengah, kusergap dia dari belakang. Belatiku merobek urat nadi di lehernya. Kutatap lekat mata tentara Jepang yang terbelalak saat meregang nyawa.

“Apakah kau takut mati?” bisikku di telinganya.

Aku memanjat pagar berduri, ujung kawat yang tajam menggores telapak kaki dan betisku. Entah mendapat kekuatan dari mana, aku terus berlari menembus gelapnya hutan. Bajuku basah kuyup oleh peluh bercampur air hujan. Sesekali sambaran petir membahana di angkasa. Kilatannya menerangi jalan di depanku yang gelap gulita.

Aku tak peduli rasa perih dan nyeri yang menusuk lengan dan telapak kakiku. Goresan duri semak belukar dan kerikil tajam di sepanjang jalan melukai permukaan kulit dan kakiku.
Di kejauhan, terdengar teriakan para tentara Jepang dan suara tembakan. Gonggongan anjing-anjing penjaga yang sedang mengendus jejakku membuat jantungku berdebar kencang. Aku tak mau jadi bulan-bulanan cakar dan taring mereka. Tentara-tentara itu sepertinya marah karena menemukan penjaga tewas, kugorok lehernya dengan belati yang aku curi seminggu yang lalu.

Air mataku sudah kering. Jiwaku sudah mati sejak pertama kali mereka merudapaksa tubuhku beramai-ramai. Lalu menjadikan aku budak dari hasrat binatang yang mereka lepaskan tiap malam, menjajah kemerdekaanku.

Aku berlari dan terus berlari. Kali ini aku tak peduli akan selamat atau mati. Diriku kini hanyalah seonggok daging tak berharga. Rasa sakit dan sisi kemanusiaanku telah lenyap, bersama kenangan laknat yang mengubah jalan hidupku.

Surabaya, 20 Maret 2022

Arya Kusuma Mayangkara adalah nakes yang sedang menyamar menjadi penulis. Aries April yang meledak-ledak, narsis, tetapi humoris. Pecinta buku, traveling dan wisata kuliner.

Akun Facebook :
https://www.facebook.com/arya.mayangkara

Categorised in: ,

2 Komentar for AKU MANTAN JUGUN IANFU

  • Siti Auliya berkata:

    Terima kasih, Pak Dokter, sudah bersedia mengisi rubrik cerpen Adaliterasi. Karya yang begitu luar biasa. Walau sedikit mengerikan tapi ini adalah fakta sejarah yang harus diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia.

  • AP Riyani berkata:

    Om Dokter emang keren.Selalu upgrade ilmu. Semangat terus dalam menginspirasi 💖.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan