Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » Anies paling Apes, Fadli Zon Galau Tingkat Dewa

Anies paling Apes, Fadli Zon Galau Tingkat Dewa

(245 Views) Januari 2, 2021 12:59 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Tanpa menafikan nama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, sejauh ini ada tiga kepala daerah provinsi yang digadang-gadang paling berpeluang maju Pilpres 2024. Dan, ketiganya berada di Pulau Jawa.

Ketiga nama kepala daerah dimaksud adalah, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Sedangkan satunya lagi yaitu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Tidak dipungkiri, ketiga gubernur di atas adalah nama-nama yang kerap wara-wiri di jajaran top elektabilitas hasil jajak pendapat beberapa lembaga survei tanah air. Anies, Ridwan dan Ganjar hampir tidak pernah keluar dari lima besar bersama Menhan Prabowo Subianto dan Menparekraf baru, Sandiaga Uno.

Siapa yang paling memiliki peluang paling besar diantara ketiga kepala daerah tersebut untuk maju pilpres? Pertanyaan ini menarik, tentunya.

Merujuk pada beberapa hasil survei terakhir, Ganjar Pranowo pasti paling potensial. Elektabilitas politisi PDI Perjuangan (PDI-P) tersebut kerap nangkring di posisi puncak. Termasuk hasil survei terakhir SMRC yang dirilis bulan Desember 2020. Pria kelahiran Karanganyar, 28 Oktober 1968 meraup angka 15,7 persen. Disusul Prabowo 14,9 persen dan Anies Baswedan 11 persen. Sedangkan Ridwan Kamil berada urutan kelima dengan 7,1 persen.

Kendala satu-satunya yang dihadapi Ganjar datang dari sikap partainya sendiri. Sejauh ini partai besutan Megawati Soekarnoputri tersebut masih lebih mengedepankan Puan Maharani. Jamak, mengingat Ketua DPR RI periode 2019-2024 ini merupakan ‘putri mahkota’ yang memiliki trah sukarno.

Kendati demikian, bila elektabilitas Puan istiqomah di papan bawah dan Ganjar teru melejit, sepertinya PDI-P tidak ingin berjudi. Mereka akan lebih memilih calon dengan peluang menang lebih besar.

Dan, bukan tak mungkin nama Puan selama ini dicuatkan sebagai calon kuat dari PDI-P maju Pilpres 2024 hanya bagian dari strategi politik saja. Dalam hal ini, Ganjar sengaja disimpan agar tekanan politik yang datang terhadapnya tak terlalu kuat. Tidak ditebang atau ditebas di tengah jalan oleh calon-calon lawan politiknya.

Biarlah serangan itu dialamatkan terhadap putri sulung Megawati Soekarnoputri saja. Sementara Ganjar tetap adem ayem sambil terus menyusun rencana dan kekuatan.

Nama Ridwan Kamil pun cukup memiliki peluang besar maju Pilpres 2024, meski elektabilitasnya tidak sementereng Anies, Prabowo, bahkan Ganjar. Namun, Kang Emil—sapaan akrab Ridwan Kamil terlebih dahulu harus bekerja keras meraih simpati publik dan mendapat kepercayaan partai politik.

Perlu diingat, masa jabatan Kang Emil bakal habis pada tahun 2023. Dan, dipastikan tidak ada Pilkada pada tahun tersebut. Artinya, pasca jabatannya habis, dia bakal kembali menjadi warga biasa alias tidak memiliki panggung politik.

Nah, dalam kondisi ini, Kang Emil harus bisa memanfaatkan waktu kosongnya itu agar tetap diingat publik. Harus ada terobosan-terobosan atau langkah politik extra ordinary.

Bila itu sukses dilewati, Menurut Direktur Riset dan Program SUDRA, Surya Vandiantara, Gubernur Jawa Barat ini berpotensi dilirik Partai Golkar dan Nasdem.

“Kalau Golkar biasanya di injury time ketua umumnya legowo. Nasdem apalagi, mereka tak punya figur pilihan, maka yang realistis ya Kang Emil itu,” kata Surya. Dikutip dari Sindonews.com.

Khusus Nasdem, analisa Surya bisa jadi benar. Sebab, pada Pilkada Jawa Barat 2013, Partai Nasdem adalah salah satu pengusung Kang Emil. Jadi, mereka bisa saja melanjutkan kerjasamanya pada tingkat lebih tinggi.

Sementara Anies Baswedan bisa disebut nama paling apes bila dibanding Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil. Bila ingin tetap maju pilpres, perjuangan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini jauh lebih berat.

Masa Jabatan Anies bakal habis pada tahun 2022. Sementara berdasarkan Undang-Undang Pemilu Pasal 201 UU Nomor 10 Tahun 2016, tidak akan langsung dilakukan Pilkada. Sama halnya dengan Ganjar dan Kang Emil, mantan Rektor Universitas Paramadina ini bakal nganggur. Parahnya, waktu nganggur Anies lebih lama. Empat tahun.

Akan jauh lebih berat bagi Anies mendapatkan simpati publik dalam posisi nganggur seperti itu. Selain tidak terdaftar sebagai kader partai politik, citranya sekarang cenderung melempem.

Menurut Surya, dilansir dari Sindonews.com, Anies paling realistis diusung oleh PKS. Sayangnya, partai ini saja tidak cukup memenuhi ambang batas pilpres. Artinya masih harus mencari mitra koalisi. Namun, hal itu tidak mudah.

“Untuk mencari teman koalisi aja syukur kalau ada yang mau diajak bergabung. Maka kolaborasi era Pak SBY harus dilanjutkan lagi, Demokrat-PKS dan sisir lagi jalinan koalisi yang udah berserakan,” katanya.

Penulis rasa, PKS sepertinya akan berpikir ulang mengusung Anies bila melihat konstelasi politik hari ini. Beragam peristiwa dan kebijakan Anies Baswedan yang dinilai kurang, menjadikan citranya cenderung tenggelam.

Nama Anies makin terancam kurang laku setelah Front Pembela Islam (FPI) baru saja dibubarkan melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) enam Menteri, Rabu (30/12/20). Padahal, ormas Islam garis keras ini memiliki andil sangat besar saat dia terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 lalu.

Kalau bukan karena FPI dan Habib Rizieq sebagai pimpinannya, cukup mustahil bagi Anies jadi orang nomor satu di ibu kota. Politisasi ayat dan mayat yang kencang digaungkan oleh Rizieq dan jutaan massanya, sukses menumbangkan pasangan petahana. Ahok-Djarot.

Jadi, dengan bubarnya FPI berarti kekuatan atau modal utama dukungan terhadap Anies pun jauh lebih berkurang. Dalam kaca mata politik calon partai pengusungnya, hal ini tidak seksi lagi. Dan, jalannya menuju Pilpres 2024 kian terjal.

Fadli Zon Galau Tingkat Dewa

Kaitannya dengan pembubaran FPI sekaligus dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Penulis rasa bukan hanya Anies Baswedan yang apes dan galau. Akan tetapi, dipastikan masih ada pihak-pihak lain merasakan galau tingkat dewa. Salah satunya, politisi Partai Gerindra. Fadli Zon.

Mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014-2019 dalam beberapa waktu terakhir sangat identik dengan FPI. Bahkan, Fadli Zon tampaknya lebih condong ke ormas besutan Habib Rizieq itu dibanding terhadap Partai Gerindra.

Buktinya, Fadli terus saja membela FPI dan mengkritik pemerintah. Padahal, Partai Gerindra sudah jelas-jelas telah menjadi bagian dari pendukung penguasa.

Penulis percaya, sikap Fadli Zon seperti itu bukan tanpa dasar. Bohong rasanya kalau sekadar ingin menunjukan rasa simpati terhadap FPI dan Habib Rizieq. Sikap leyeh-leyeh Fadli kemungkinan besar semata-mata demi kepentingan politik. Yakni, berharap mendapat dukungan dan mendulang suara dari kelompok Islam kanan tersebut.

Sejak tanggal 30 Desember 2020 lalu, yang dibela dan diperjuangkan Fadli ambyar. Otomatis niatnya meraih dukungan pun percuma. Toh, FPI telah jadi almarhum.

Benar, telah muncul nama Front Persatuan Islam sebagai pengganti FPI versi lama yang telah dibubarkan. Meski begitu, aura, fanatisme dan pergerakannya tidak akan semasif sebelumnya. FPI reborn mungkin tak ubahnya kelompok arisan biasa. Sebab, mereka sepakat tidak akan mendaftarkan diri ke Kementrian Dalam Negeri.

Lagipula, pemerintah juga tidak bodoh. Meski mereka berganti casing, kemungkinan besar akan terus mengawasi segala gerak-gerik FPI reborn, lantaran penghuninya masih tokoh dan orang yang sama.

Jadi, apa yang bisa diharapkan dari organisasi yang pergerakannya terbatas. Kalaupun ada, kontribusinya tidak akan besar. (Elang Salamina)

Categorised in:

No comment for Anies paling Apes, Fadli Zon Galau Tingkat Dewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan