Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Fiksi » Botol Kosong Ikan Cupang

Botol Kosong Ikan Cupang

(200 Views) November 21, 2020 1:44 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Penulis adalah Zaldy Chan. Pria asal Curup, Bengkulu yang mengaku lebih betah di hutan daripada di tengah hingar-bingar keramaian kota

“Akhirnya, datang juga!”

Entah siapa yang memulai. Sambutan kehormatan disertai tepuk tangan, juga sapaan terdengar silih berganti. Ibu tersenyum kepadaku.

Lelaki itu terlihat kumal, tapi terbungkus pakaian mahal. Datang dan segera duduk di dekat jendela. Posisi paling istimewa. Semua orang berusaha tenang. Menunggu titah sakti dalam cahaya remang.

“Lupakan pekan sibuk. Waktunya untuk mabuk!”

Ibu segera berlari ke dalam kamar. Botol-botol simpanan harus segera keluar. Tepuk tangan kembali bergema, saat tangan lincah ibu menyajikan menu utama di atas meja.

Ayah bergegas menebar piring-piring kaca di antara menu utama. Berisi tumpukan kacang goreng hasil ramuan rahasia. Di atas meja, tersusun bak hidangan persembahan. Pemicu kebahagiaan.

“Jangan Dangdut terus! Coba lagu nostalgia!”

Titah kedua, lelaki kumal berpakaian mahal. Kakakku, terlihat sibuk memetik gitar. Mengingat aturan standar, semua jenis lagu harus pintar. Jika tak ingin dibentak bandar.

Bagi Kakek dan Nenek, minyak dalam botol farfum bekas, malam ini harus habis terkuras. Sudah dua orang yang ditangani, masih tujuh lagi yang antri. Minyak urut itu buatan sendiri, hasil irisan bawang merah dan akar serai wangi

Lelaki kumal berpakaian mahal, berdiri di atas meja. Seperti biasa, akan mulai berfatwa.

“Mana ada minuman alkohol? Ini minuman botol!”

Tawa bergema. Suara gitar mengiringi irama tepuk tangan dan teriakan.

“Tak ada minuman keras! Kalau keras, bagaimana bisa diminum?”

Tawa kembali bergema. Kali ini, diiringi bunyi dari meja dan bangku yang menjadi sasaran pukulan.

Lelaki kumal berpakaian mahal, kembali duduk di posisi paling istimwa. Di dekat jendela. Mereguk isi botol kelima.

Jelang pukul tiga dini hari, suasana sepi. Ibu sibuk merapikan gelas kosong yang berserakan di atas meja. Sendirian, menyusun rapi warung seperti semula keadaan.

Kakek dan Nenek yang sebelum pukul satu, sudah menghilang ke kamar tidur. Saat ini mesti terjaga. Berdua membersihkan kulit-kulit kacang yang berhamburan kemana-mana.

Ayah bersama lelaki kumal berpakaian mahal sejak pukul dua tadi pergi. Biasanya sebelum pukul tujuh, Ayah pasti kembali.

Kakak dari tadi tak henti mengantar satu-persatu pelanggan pulang. Memastikan keluarga mereka tak merasakan kehilangan.

Akupun menyusun satu-persatuĀ botol kosong. Besok pagi, puluhan botol itu akan aku jual ke pedagangĀ ikan cupang.

Dapat berapa, Nak?”
“Tiga puluh dua ribu!”
“Kuota enam giga berapa?”
“Kurang empat ribu, Bu!”

Ibu tersenyum, sambil menunjuk satu botol di tanganku. Berisi setengah cairan hasil campuran sisa minuman.

Dengan itu, cukup, kan?”
“Semoga gak ketahuan.”
“Makanya harusĀ sekolah, biar tak ketahuan!”

Tak ada yang tahu masa depan. Namun, kuingin diakhiri dengan senyuman. Entah kapan!

TAMAT

Categorised in:

No comment for Botol Kosong Ikan Cupang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan