Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Fiksi » Cerpen||Tumbal Pesugihan

Cerpen||Tumbal Pesugihan

(335 Views) November 16, 2020 1:56 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Malam itu Ratmo terlihat sangat bergairah. Ia menarik lengan Sumi—istrinya, mengajak tidur lebih awal dari biasanya.

Dengan napas terengah ia membisiki sesuatu di telinga perempuan itu. Sesuatu yang sungguh terdengar amat muskil.

“Dalam waktu dekat kita bisa kaya raya, Sum. Tanpa bekerja.”

“Omong kosong, Kang! Di mana-mana orang kalau mau kaya, ya harus bekerja. Kecualiā€¦” Sumi menghentikan kalimatnya.

“Kecuali apa? Punya warisan?”

Pembicaraan terhenti sejenak. Ratmo mulai melepaskan kain sarungnya. Sumi mundur beberapa langkah.

“Tunggu dulu Kang! Stok pengamanmu sudah habis. Aku tidak mau hamil lagi!” Suara Sumi pecah, sedikit gusar. Membuat Ratmo menaikkan kembali kain sarungnya dan menatap istrinya dengan wajah geram.

“Begitu seringnya kau menolakku, Sum. Ingat! Kalau nanti aku sudah punya banyak uang, jangan protes jika aku cari perempuan lain!”


Malam Jumat Kliwon. Suasana hening di area pemakaman Gunung Kawi seperti sengaja diciptakan. Beberapa orang duduk terpekur mengelilingi cungkup yang halamannya ditumbuhi pohon dewandaru, berharap kejatuhan daunnya tepat di atas ubun-ubun kepala mereka.

Tak terkecuali Ratmo. Laki-laki usia empat puluhan itu sejak petang tadi sudah menggelar kertas koran, duduk berbaur bersama orang-orang yang berkepentingan seperti dirinya. Mencari pesugihan.

Ya. Sejak berabad silam Gunung Kawi memang identik sebagai tempat jujugan para pemburu pesugihan. Menurut kabar yang beredar, bahkan tak jarang pejabat dan bos-bos pemilik perusahaan besar pernah mengadu peruntungan di sini.

Jika mereka yang sudah kaya saja masih berharap hartanya semakin bertambah, mengapa yang miskin seperti dirinya tidak? Ratmo membatin. Meski untuk menuju kaya itu—menurut juru kunci makam, ada beberapa prosesi ritual dan tumbal yang harus dipenuhi.

“Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini. Bangsa lelembut pun butuh jasa timbal balik.” Begitu sang juru kunci menjelaskan.

Prosesi ritual “tahan melek” menunggu daun dewandaru jatuh di ubun-ubun kepala, Ratmo jelas menyanggupi. Tapi untuk tumbal? Ah, nantilah. Belum terpikirkan.

Malam semakin jatuh di lubang keheningan. Banyak orang mengundurkan diri dari ritual “tahan melek” malam itu. Mereka yang tertidur dinyatakan gugur dan harus rela pergi meninggalkan area pemakaman.

Suara burung hantu menggema berulang kali dari kejauhan. Menjadikan suasana terasa semakin mencekam. Ratmo menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya tinggal dirinya dan satu orang lagi yang masih tinggal, duduk di sana.

Orang itu menutupi kepala hingga ujung kakinya dengan kain sarung. Sepertinya ia menghindari kerumunan nyamuk lapar yang merajalela.

Tepat pukul tiga dini hari, angin bertiup sangat kencang. Dua lembar daun dewandaru melayang di udara, lalu jatuh tepat di atas kepala Ratmo dan orang berselimut sarung itu.

Juru kunci makam muncul, melambaikan tangan, memberi aba-aba agar dua orang itu mengikutinya.

Mereka tiba di sebuah bangunan tua yang terletak di sebelah kiri makam. Aroma dupa seketika menguar menusuk hidung. Ratmo sampai terbatuk-batuk dibuatnya.

“Sekarang tinggal memilih tumbal untuk sesembahan kepada perewangan yang akan membantu kalian mengumpulkan kekayaan.” Juru kunci menyodorkan secarik kertas dan pulpen. Masing-masing orang diminta mencatat nama yang akan dijadikan tumbal.

Ratmo tanpa ragu menulis nama “Sumi”.

“Mau diapakan orang ini? Dibuat setengah gila atau mati?”

“Setengah gila saja.”

Juru kunci lalu menoleh ke arah orang satunya yang berselimut sarung.

“Sudah ditulis nama tumbalnya?”

Orang berselimut sarung itu mengangguk. Lalu menunjukkan kertas di tangannya. Tinggi-tinggi.

“Tumbal namanya Ratmo. Dia suami saya. Buat orang ini impoten.”

Lilik Fatimah Azzahra

Categorised in:

No comment for Cerpen||Tumbal Pesugihan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan