Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » FPI ‘Reborn’, Nafas Buatan untuk Anies

FPI ‘Reborn’, Nafas Buatan untuk Anies

(294 Views) Januari 2, 2021 9:09 am | Published by | No comment
iklan

Adanews.id-Melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) enam menteri, pemerintah ahirnya membubarkan Front Pembela Islam (FPI), Rabu (30/12). Mulai hari itu ormas Islam tersebut dianggap organisasi terlarang.

Pro kontra atas keputusan pemerintah ini langsung menjadi trending. Baik di media sosial, maupun media massa arus utama.

Bagi yang pro, pembubaran FPI dinilai sebagai langkah tepat pemerintah dalam meminimalisir aksi-aksi radikal, propokatif dan bentuk-bentuk persekusi. Itu semua telah membuat masyarakat resah.

Lain hal dengan pihak kontra. Pembubaran FPI dinilai sebagai wujud arogansi pemerintah untuk memberangus kebebasan berpendapat dan berserikat.

Pro kontra terhadap suatu kebijakan atau keputusan adalah wajar dalam negara demokrasi. Tinggal bagaimana kita mensikapi hal ini dan tidak menjadikan perbedaan menjadi masalah atau malapetaka.

Kendati sudah sah dibubarkan pemerintah, para petinggi FPI rupanya tak hilang akal. Tak menunggu lama, pada hari yang sama dengan hari pembubaran, 19 mantan pentolan Front Pembela Islam minus Habib Rizieq Shihab, karena masih ditahan Polda Metro Jaya, mendeklarasikan kelompok baru.

Anehnya, para mantan pentolan Front Pembela Islam ini bersepakat tidak akan mendaftarkan diri ke Kementerian Dalam Negeri. Sepertinya mereka ini bukan sedang membentuk sebuah organisasi, melainkan sebuah kelompok arisan. Yang bisa kapan saja dibentuk, dan dibubarkan.

Menilik dari namanya, kelompok baru ini sama sekali tak berubah. Masih menggunakan nama “FPI”. Hanya, akronim FPI disini bukan Front Pembela Islam, tetapi Front Persatuan Islam. Maka, tak salah bila banyak pihak mengatakan, nama baru kelompok ini adalah FPI reborn.

Menjadi hak mereka untuk mendeklarasikan nama apapun. Toh, hal ini merupakan salah satu hak warga negara untuk berserikat. Sebagaimana diatur Undang-Undang Dasar (UUD) 45 pasal 28E ayat 3 tentang hak setiap warga negara atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Artinya, sejauh mereka mematuhi segala aturan yang berlaku sebagaimana diatur pada undang-undang dimaksud negara dipastikan bakal menjaminnya.

Nah, kaitan dengan kembali lahirnya organisasi besutan Habib Rizieq Shihab atau FPI reborn. Penulis rasa ada pihak-pihak yang asalnya sudah sekarat atau minimal pingsan, kembali merasa hidup. Ibarat kata, FPI reborn ini sebuah “nafas buatan”.

Siapa saja mereka? siapa lagi kalau bukan pihak atau politisi yang selama ini dekat dengan kelompok Islam garis kanan tersebut. Namun, dalam kesempatan ini, penulis hanya akan menyebut satu nama saja. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Bagi Anies Baswedan, FPI atau FPI reborn memiliki historis dan ikatan sangat kuat. Toh, orang-orangnya masih itu-itu saja.

Diketahui, kebersamaan mereka telah dirajut sejak Pilgub DKI Jakarta 2017. Saat itu, Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno mendapat sokongan penuh dari kelompok Islam kanan ini. Kerjasama keduanya berakhir happy ending. Pasangan Anies-Sandi mampu mengalahkan pasangan petahana, Ahok-Djarot.

Sepertinya hubungan keduanya terus berlanjut hingga hari ini. Tengok saja, saat Habib Rizieq baru tiba di tanah air, selepas menetap lama di Arab Saudi, Anies langsung sowan. Kemudian, saat acara akad nikah putri Rizieq, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini hadir diantara ribuan undangan lainnya.

Maksudnya mudah ditebak. Anies berharap dukungan politik dari mantan Imam Besar Front Pembela Islam dimaksud. Baik demi kepentingan Pilpres 2024 atau dalam rangka mempertahankan kekuasaannya di ibu kota.

Dukungan dari Habib Rizieq dan kolega memang sangat dibutuhkan, mengingat akhir-akhir ini citranya kurang baik. Dia hanya dikenal sebagai sosok yang pintar menata kata dibanding aksi-aksi nyata yang bermanfaat bagi rakyat jelata. Anies hanya fokus mempercantik etalase kota agar tersohor hingga ke luar negara, daripada membuat warganya hidup sejahtera.

Untuk itu, salah satu jalan terbaiknya adalah kembali menjalin hubungan baik dengan kelompok yang pernah dikatakannya pada kampanye Pilgub DKI Jakarta 2017, sebagai saudara seiman.

Sayang, semuanya mendadak jadi kabur, lantaran Habib Rizieq di tahan dan FPI dibubarkan. Bagi Anies, hal itu hampir pasti bakal mengancam eksistensi kekuasaannya di ibu kota, maupun syahwatnya menuju Pilpres 2024.

Dengan ditahannya Rizieq dan dibubarkannya FPI, tampaknya Anies harus menyimpan dalam-dalam ambisi mempertahankan kursi Jakarta 1. Dengan waktu tersisa, sulit baginya membangun pencitraan meski ngotot sekalipun. Sebab, warga Jakarta sudah kadung dikecewakan.

Terlebih, dalam beberapa waktu terakhir muncul sosok baru yang mendadak jadi idola warga ibu kota. Mensos Tri Rismaharini.

Meski, tanggungjawab Mensos adalah seluruh warga negara Indonesia. Blusukan yang dilakukan Risma—nama kecil Tri Rismaharini di wilayah-wilayah kumuh ibu kota yang hampir tidak pernah dijamah Anies, membuat mantan Wali Kota Surabaya itu bagai oase di tengah gersangnya padang pasir.

Bila hasil blusukan Risma mampu direalisasikan dalam wujud solusi nyata dan bisa dirasakan manfaatnya oleh warga Jakarta, kemungkinan bakal membuat citra Anies makin tenggelam.

Ibarat jatuh tertimpa tangga. Itulah Anies. FPI yang diharapkan jadi modal kuat pendongkrak elektoralnya malah dibubarkan. Dan, Risma yang sudah mulai dengan gebrakan-gebrakannya juga mengancam mampu menenggelamkan citranya.

Boleh jadi, hal ini bakal berdampak pada partai pengusungnya dulu. Bukan tidak mungkin mereka bakal berpikir ulang untuk menjagokan kembali Anies. Partai pengusung mungkin akan lebih baik tidak berjudi dengan peluang yang sangat kecil, daripada nanti menanggung rugi lebih besar.

Namun begitu, sepertinya nasib buruk setidaknya belum akan menghinggapi Anies. Dengan FPI reborn, harapan Anies mendapatkan sokongan dari kelompok Islam kanan ini masih terbuka.

Telah disinggung, meski FPI reborn ini baru, para tokoh, anggota dan ideologinya masih tetap sama. Hanya casing-nya saja yang berubah. Dengan demikian hampir dipastikan mereka tidak akan meninggalkan Anies Baswedan.

Ibarat kata, Anies yang yang sudah hampir pingsan karena kelelep, tersadar kembali akibat adanya “napas buatan” FPI reborn. Setidaknya, hadirnya FPI baru, membuat ancaman terhadap dirinya sedikit berkurang. Dia tinggal memikirkan formula tepat untuk tidak membuat Risma makin besar di wilayah kekuasaannya.

Menarik kita tunggu, gebrakan apa yang bakal mereka lakukan. Baik untuk kepentingan Anies, maupun bagi eksistensi kelompok islam kanan ini. (Elang Salamina)

Categorised in:

No comment for FPI ‘Reborn’, Nafas Buatan untuk Anies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan