Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » Gerakan Wakaf Nasional Mengapa Harus Nyinyir?

Gerakan Wakaf Nasional Mengapa Harus Nyinyir?

(263 Views) Januari 29, 2021 11:33 am | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Presiden Jokowi meresmikan Gerakan Nasional Wakaf Tunai (GNWT) dan Brand Ekonomi Syariah Senin 25 Januari 2021 kemarin. Ia menyebutkan potensi wakaf di Indonesia sangat besar, baik wakaf benda tak bergerak maupun benda bergerak, termasuk wakaf tunai.

Potensi aset wakaf disebutkan Jokowi bisa mencapai Rp.2.000 triliun per tahun dan potensi wakaf tunai bisa menembus angka Rp.188 triliun.

“Kita perlu perluas lagi cakupan pemanfaatan wakaf, tidak lagi untuk tujuan ibadah tapi dikembangkan untuk tujuan sosial ekonomi yang memberikan dampak signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat,” kata Jokowi Senin (25/01/21). Seperti dilansir Bisnis.com.

Potensi ini bisa terealisasi apabila pengelolaan wakaf dilakukan secara profesional dan dilakukan oleh lembaga yang memiliki kredibilitas yang cemerlang sehingga dapat dipercaya.

Seperti kita tahu, sebagai negara muslim terbesar di dunia potensi wakaf tentu saja sangat besar. Wakaf memang merupakan bagian dari ibadah umat Islam, seperti halnya zakat jika dikelola dengan baik untuk tujuan sosial dan ekonomi maka dampaknya pada perekonomian nasional sangat besar.

Wakaf secara etimologis berasal dari kata bahasa Arab, waqata yang memiliki arti berhenti. Karena itu wakaf adalah menahan harta yang mungkin diambil manfaatnya untuk kebaikan tanpa digunakan.

Sedangkan menurut Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang Wakaf adalah perbuatan hukum Wakif (pemberi wakaf) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta miliknya untuk dimanfaatkan selamanya dan untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah atau kesejahteraan umum secara syariah.

Yang umum dan sering kita temukan wakaf ini berupa tanah atau bangunan yang diperuntukan untuk pembangunan Masjid, hampir seluruh bangunan masjid di Indonesia ini berdiri diatas tanah wakaf dari seseorang.

Dalam Al Quran perintah wakaf ini tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 267. Hukum wakaf ini sunah. Merujuk pada ayat tersebut setelah mendengar dan disepakati para ulama maka dalam UU41/2004 sesuatu yang bisa diwakafkan itu antara lain tanaman, hak milik atas tanah dan bangunan, uang, logam mulia, surat berharga, dan kendaraan.

Namun ada yang harus diingat bagi para pengelola aset wakaf atau Nazhir, bahwa menjual barang wakaf itu adalah haram.

Lantas bagaimana jika yang di wakafkan itu uang apa tak boleh digunakan, boleh hanya dipergunakan untuk kegiatan usaha yang memungkinkan uang itu bisa berputar dan yang dipergunakan adalah hasil dari perputaran uang tersebut.

Nah Gerakan Wakaf yang di inisiasi pemerintah ini sekaligus akan memulai pembenahan tata kelola Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Menurut situs BWI.go.id, badan ini merupakan lembaga independen yang pendiriannya berdasarkan UU 41/2004, tujuan pendiriannya untuk mengembangkan dan memajukan perwakafan di Indonesia.

BWI dibentuk bukan untuk mengambil alih aset-aset wakaf yang selama ini dikelola oleh nazhir (pengelola aset wakaf) yang sudah ada.

BWI hadir untuk membina nazhir agar aset wakaf dikelola lebih baik dan lebih produktif sehingga bisa memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat, baik dalam bentuk pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, maupun pembangunan infrastruktur publik.

Dan BWI ini mulai berdiri sejak tahun 2004, saat ini Muhammad Nuh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden SBY.

Menurut data dari BWI hingga tahun 2019 total tanah wakaf yang bersertifikat di Indonesia mencapai 449.000 hektar di 364.000 tempat berbeda. Sementara untuk jenis wakaf yang lain datanya belum tersedia.

Mungkin inilah yang akan dibenahi sehingga tata kelolanya menjadi lebih baik dan transparan.

Namun anehnya kebijakan pemerintah yang memfasilitasi kegiatan ibadah umat muslim ini menjadi bahan nyinyiran mereka yang selama ini bersebarangan dengan pemerintah terutama dari mereka yang kerap menjual isu agama untuk kepentingan politiknya.

Mereka beranggapan negara tengah butuh dana dan mencoba men-generate dana tersebut dari umat Islam. Hal itu lah yang mereka blow up dengan mencoba menghadap-hadapkan gerakan wakaf ini dengan Umat Islam secara keseluruhan.

Seperti yang dicuitkan oleh Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dalam pemerintahan Jokowi jilid 1, Rizal Ramli.

“Islam-Phobia digencarkan, tapi ketika kesulitan keuangan, merayu dan memanfaatkan dana ummat, wakaf dan dana haji. Kontradiktif amat sih ..” cuitnya lewat akun @RamliRizal.

Kemudian ditimpali oleh akun lain sehingga kemarin urusan wakaf ini sempat menjadi viral salah satu orang yang menimpali cuitan Rizal Ramli dalam presfektif kebencian ini dilakukan oleh akun @qianamia13

“sedungu pikir bangun infrastruktur pake duit nenek nya.. yg bayar utang negara cuma cebong… klo goblok bagiin ke org lain dikit jgn dmakan semua..”

Mungkin ada lebih dari 10 ribu cuitan bernada sejenis yang sepertinya ingin menggiring opini buruk terhadap gerakan wakaf ini sekaligus berusaha mendiskreditkan pemerintahan Jokowi dengan cara menggunakan isu agama

Saya bingung sebenarnya melihat kondisi seperti ini mengapa kebencian mereka terhadap pemerintahan Jokowi ini begitu dalam sehingga menghilangkan akal sehat dan mengapa selalu agama yang mereka gunakan.

Tak mampu kah mereka mengusung isu lain untuk mengkritik pemerintah?

Gerakan wakaf nasional ini jelas dan terang untuk kepentingan pembangunan nasional dan umat Islam secara keseluruhan, yang manfaatnya pun akan dinikmati seluruh bangsa Indonesia termasuk mereka. (Fery Widiatmoko)

Categorised in:

No comment for Gerakan Wakaf Nasional Mengapa Harus Nyinyir?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan