Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Serba Serbi » Harmonisasi Trio Belanda Di AC Milan

Harmonisasi Trio Belanda Di AC Milan

(432 Views) November 15, 2020 1:06 am | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id– JIKA bicara soal sepak bola Belanda di masa lalu, kira-kira apa yang ada dalam benak kita? Tentu saja masing-masing orang, khususnya fans fanatik sepak bola negeri kincir angin ini akan memiliki banyak presepsi atau kisah-kisah menarik dalam benaknya.

Mungkin ada yang langsung mengatakan total football, Johan Cruyf, Ajak Amsterdam, runner up piala dunia tiga kali (1974, 1978 dan 2010), Juara eropa atau trio Belanda.

Apapun yang disebutkan di atas, semuanya benar. Jika bicara sepak bola Belanda tempo dulu, terkenal dengan skema permainan total football. Skema ini mengharuskan seluruh pemain memiliki ketahanan fisik kuat dan harus mampu menyerang dan bertahan sama baiknya.

Dengan total football, sepak bola Belanda menjadi salah satu tim yang sangat disegani oleh semua tim yang ada di kolong langit pada era 70 sampai 80-an.

Skema total football sangat kontradiktif dengan pola pertahanan grendel atau Catenaccio milik Italia. Dalam catatan sejarah, skema ini hanya mampu menghibur penonton tanpa sanggup mempersembahkan tropy juara dunia.

Pada Piala Dunia tahun 1974, skuad Belanda diisi oleh pemain-pemain top dunia. Misal, Johan Cruyf dan Johan Nerskeens. Mereka berdua suskses menularkan skema permainan total football di klubnya Ajak Amsterdam ke tim nasional. Terbukti, mereka sukses menembus babak final sebelum akhirnya kalah dari Jerman Barat dengan skor 1-2.

Empat tahun berikutnya, total football ala Belanda kembali sukses menembus babak final. Namun, lagi-lagi mereka harus puas menjadi runner up. Di babak final kalah dari Argentina dengan skor 1-3.

Sejak saat itu, Belanda kerap menjadi tim yang selalu dipavoritkan menjadi juara. Hanya, hasilnya tetap saja jauh panggang dari api. Tropy piala dunia masih menjadi mimpi di siang bolong hingga hari ini.

Sebenrnya, kesempatan menjadi juara dunia kembali datang pada tahun 2010. Wesley Sneider dan kawan-kawan mampu menembus babak final melawan Spanyol.

Sayang, gol semata wayang Andre Iniesta membuyarkan timnas Belanda mengukir sejarah jadi juara dunia pertama kali.

Boleh jadi peruntungan Belanda di piala dunia masih nihil. Akan tetapi tidak halnya dengan piala eropa yang disebut-sebut minaturnya piala dunia.

Dalam ajang empat tahunan tingkat negara-negara benua biru itu, timnas Belanda pernah merasakan indahnya mengangkat tropy juara pada tahun 1988 silam. Gelar ini adalah satu-satunya yang pernah diraih tim oranye dalam kancah sepak bola internasional.

Tanpa mengesampingkan peran para pemain Belanda lain kala itu. Sebut saja Koeman bersaudara, Aron Winters, dan Dany Blind. Ada tiga sosok yang peran sentralnya di timnas Belanda tak tergntikan kala mereka menjadi juara eropa setelah sukses menaklukan perlawanan Uni Soviet dengan skor 2-0 di babak final.

Ketiga nama itu adalah Rud Gullit, Frank Rijkard dan Marco Van Basten. Dan, selanjutnya tiga pemain ini melegenda dengan sebutan “Trio Belanda”.

Melegendanya trio belanda bukan saja mampu menorehkan pretasi di tingkat timnas. Mereka juga sukses di tingkat klub bersama AC Milan Italia pada dekade akhir 80 hingga 90-an awal.

Dengan keberadaan trio Belanda, AC Milan yang kala itu dilatih oleh Arrigo Sacchi menjadi salah satu tim yang sangat disegani klub-klub eropa.

Diolah dari beberapa sumber, selama kebersamaannya di klub asal kota mode, trio Belanda mampu menorehkan prestasi gemilang. Mereka sukses menyabet dua Piala Eropa (sekarang Liga Champion) serta empat juara Liga Seri A Italia atau scudetto dan Super Copa Italia dalam kurun waktu lima tahun. Selain itu, mereka juga sukses meraih dua kali gelar UEFA Super Cup.

Sebagai satu kesatuan dari trio Belanda, Rijkaard secara teknik bertanggung jawab memulai serangan dari AC Milan. Kemudian Rudd Gullit yang memegang kendali lapangan tengah sebagai playmaker dan memainkan perannya sebagai penarik perhatian lawan.

Dari Gullit, bola biasanya langsung menuju Van Basten yang muncul sebagai predator, dan meneror jantung pertahanan lawan.

Harrmonisasi atau Kemitraan trio Belanda ini adalah salah satu yang paling sukses dalam sejarah permainan sepak bola. Baik itu permainan di level timnas maupun di tingkat klub.

Berikut profile singkat ketiga pemain asal Negeri kincir angin ini :

Marco Van Basten
Dia adalah pemain kelahiran Utrecht, Belanda, 31 Oktober 1964. Sebelum menjadi andalan AC Milan di lini serang, Basten merupakan pemain utama Ajak Amsterdam.

Prestasinya yang mentereng bersama Ajak, dengan 128 gol dari 133 penampilan, membuat AC Milan merekrutnya pada tahun 1987.

Di klub yang bermarkas di San Siro, Marco Van Basten bermain selama lima tahun dan menorehkan 90 gol dari 147 penampilan.

Rud Gullit
Dia adalah pemain kelahiran Amsterdam 1962. Baik di timnas maupun klubnya AC Milan, pemain yang terkenal dengan rambut gimbalnya ini andalan penyuplai umpan yang memanjakan Marco Van Basten

Gullit direkrut AC Milan berbarengan dengan Basten, pada tahun 1987. Bersama klub rival abadi Intet Milan ini, Gullit hanya berkiprah selama enam tahun sebelum akhirnya memutuskan hengkang ke Sampdoria pada tahun 1993.

Selama berseragam AC Milan, Ruud Gullit mencatatkan 117 penampilan dan mengoleksi 35 poin

Frank Rijkaard
Pemain ini melengkapi kepingan legenda yang disebut trio Belanda. Sebelum bergabung dengan AC Milan pada tahun 1988, Rijkaard merupakan skuad dari Sporting CP.

Bersama AC Milan, Rijkaard bermain selama enam musim dan berhasil mencetak 16 gol dari 142 penampilannya.

Elang Salamina

Categorised in:

No comment for Harmonisasi Trio Belanda Di AC Milan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan