Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Uncategorized » Kurikulum Prototype dan Mindset Guru

Kurikulum Prototype dan Mindset Guru

(2877 Views) Januari 5, 2022 10:52 am | Published by | 7 Comments
iklan

SUMEDANG,AdanNews – Kemdikbudristek meluncurkan kurikulum prototype pada tahun 2022. Kurikulum ini sifatnya opsional. Artinya, bisa menjadi alternatif sekolah, selain kurikulum 2013 dan kurikulum darurat pada masa pandemi Covid-19. 

Kurikulum prototype sebagai salah satu kebijakan “merdeka belajar” disebut sebagai penyempurnaan kurikulum sebelumnya. Hal ini sebagai upaya menjawab tantangan zaman, khususnya terkait dengan penguatan literasi dan numerasi. 

Berdasarkan hasil PISA tahun 2018, posisi Indonesia masih sangat rendah. Dari 79 negara, Indonesia menempati urutan 74 dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. 

Kurikulum prototype juga sebagai sarana pemulihan pembelajaran pasca pandemi Covid-19, karena peserta didik banyak mengalami penurunan mutu pembelajaran (learning loss) selama Belajar Dari Rumah (BDR).

Kurikulum prototype diklaim sebagai kurikulum yang sesuai dengan filosofi pendidikan. Yakni, berpihak kepada murid, lebih sederhana, berbasis kompetensi, menguatkan karakter, fokus kepada materi esensial, melahirkan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik, dan mendukung tercapainya visi pendidikan nasional, yakni terwujudnya profil Pelajar Pancasila.

Pada kurikulum prototype jenjang SD pun direncanakan IPA dan IPS digabung menjadi IPAS. Kemudian pada jenjang SMA, peserta didik diberikan keleluasaan untuk memilih mata pelajaran sesuai dengan minat dan pilihan kariernya di masa depan. Inilah mungkin sebagai perwujudan kurikulum yang memerdekakan peserta didik. 

Mata pelajaran TIK yang pada K-13 dihapus, justru pada kurikulum prototype dimunculkan kembali, karena kondisi saat ini menuntut agar setiap orang menguasai TIK.

Kurikulum prototype menghadirkan fleksibilitas bagi sekolah untuk mengatur jadwal pelajaran. 

Alokasi jam pelajaran yang biasanya ditetapkan per minggu, pada kurikulum prototype diatur menjadi satu tahun pelajaran. 

Sekolah dapat mengatur secara fleksibel materi pelajaran apa yang akan diajarkan atau tidak diajarkan pada kelas dan pada semester tertentu. Namun, yang penting dalam satu tahun mencapai jumlah jam pelajaran yang telah ditetapkan pada stuktur kurikulum nasional.

Pro dan kontra pun muncul terkait kurikulum prototype ini. Pihak kontra mempertanyakan urgensi munculnya kurikulum ini, karena Kurikulum 2013 (K-13) baru beberapa tahun diimplementasikan

Guru-guru banyak yang belum benar-benar paham terkait implementasi K-13, sudah mau diganti lagi. Hal ini pun semakin menguatkan anggapan bahwa ganti Menteri ganti kurikulum.

Pihak pro berpendapat, pergantian kurikulum bukan hal tabu untuk dilakukan. Kurikulum pendidikan harus mampu mengikuti dinamika dan perkembangan zaman. Perubahan kurikulum perlu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan mutu pendidikan Indonesia pada level regional dan internasional. 

Bahkan faktanya kurikulum hampir selalu tertinggal oleh perkembangan zaman. Misalnya, di saat peserta didik SMK jurusan mesin kendaraan masih belajar dan praktik service mesin kendaraan yang menggunakan karburator, industri kendaraan malah telah mengeluarkan kendaraan yang menggunakan injeksi. Oleh karena itu, terjadi kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja di lapangan.

Hal inilah yang melatarbelakangi lahirnya kurikulum prototype. Peserta didik perlu dibekali dengan kompetensi yang menjadi bekal di masa depan. Pada proses pembelajaran, peserta didik lebih diarahkan untuk melakukan proyek, menyingkap (inquiry), menemukan (discovery), pembelajaran berbasis masalah secara kontekstual, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). 

Perubahan kurikulum pada dasarnya adalah hal yang lumrah dilakukan. Setiap pemimpin tentunya ingin menjabarkan visinya melalui berbagai kebijakan, khususnya terkait peningkatan mutu pendidikan. Hal tersebut nantinya akan menjadi legacy saat dirinya tidak menjabat lagi. 

Walau demikian, tentunya perubahan dan berbagai kebijakan yang diambil perlu didasarkan pada hasil evaluasi dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. 

Berbagai masukan, termasuk dari pihak yang mengkritisi atau kontra pun tentunya perlu dijadikan bahan pertimbangan agar implementasi kurikulum prototype tersebut bisa dilaksanakan dengan optimal.

Mindset Guru

Perubahan kurikulum akan menyentuh guru sebagai ujung tombak pembelajaran. Dengan kata lain, apapun kurikulumnya, kuncinya ada pada guru. Mungkin saja munculnya kurikulum prototype menghadirkan semangat perubahan dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. 

Walau demikian, hal tersebut tidak akan bisa dilaksanakan dengan optimal jika mindset gurunya tidak berubah. Perubahan kurikulum perlu sejalan dengan perubahan mindset guru. Perlu dibangun pola pikir bertumbuh (growth mindset) di kalangan guru. 

Oleh karena itu, ada pembelajaran paradigma baru seiring dengan munculnya kurikulum prototipe karena kalau guru mengajarnya masih dengan paradigma lama, maka kurikulum tersebut hanya akan indah di atas kertas.

Embrio pelaksanaan kurikulum prototype sudah ada pada program guru penggerak dan sekolah penggerak. 

Para guru penggerak yang dilatih selama sembilan bulan diharapkan bisa menjadi agen-agen perubahan atau guru-guru yang memiliki pola pikir bertumbuh dan mampu melaksanakan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. 

Begitu pun guru-guru yang mengajar di sekolah penggerak diberikan intervensi agar memiliki growth mindset dalam melaksanakan pembelajaran, karena salah satu indikator keberhasilan sekolah penggerak adalah jika guru melaksanakan pembelajaran dengan paradigma baru.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak awal Maret 2020 telah mendorong guru-guru untuk keluar dari zona nyaman. 

Mereka pada akhirnya terpaksa atau dipaksa untuk menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai sarana penunjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring (dalam jaringan/online). 

Tidak dapat dipungkiri, banyak guru kreatif lahir di masa pandemi. Hal ini bisa menjadi modal penting dalam mendukung implementasi pembelajaran pasca pandemi, termasuk jika sekolahnya memilih menerapkan kurikulum prototype.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan sosialisasi kurikulum prototype kepada para guru. Tujuannya untuk memberikan pemahaman dan tidak kebingungan dalam mengimplementasikannya. Walau mungkin saja para guru telah mendengar atau membaca informasi kurikulum tersebut, tetapi belum tentu bisa memahaminya secara utuh jika tidak disertai dengan sosialisasi dari pemerintah. Setelah sosialisasi, kemudian perlu dilakukan pelatihan dan pendampingan kepada mereka.

Mari pelajari dengan seksama konsep dan implementasi dari kurikulum prototype tersebut. Minimal belajar dari implementasinya pada sekolah penggerak. Pemantauan dan evaluasi pun tentunya diperlukan. Jika masih terdapat kekurangan, maka saran dan masukan yang konstruktif dari berbagai pihak terkait tentunya akan menjadi hal yang sangat berguna untuk penyempurnaan kurikulum prototype tersebut. (Penulis : Elang Salamina)

Categorised in:

7 Komentar for Kurikulum Prototype dan Mindset Guru

  • Taryu berkata:

    Sebuah pemikiran (ide) dan terobosan yang cemerlang bisa dijadikan alternatif dalam proses pembelajaran Dimasa pandemi khususnya. Semoga dapat diterapkan dan dijalankan sesuai dengan kemampuannya masing-masing sehingga mendapat hasil yang maksimal demi kemajuan dunia pendidikan di negeri tercinta lndonesia.

  • Ayim berkata:

    Assalamu’alaikum.
    Jadi lebih bagusnya para model guru praktek lebih dominan dulu mendahulukan pembelajaran di unit kerjanya setelah itu guru inti di tiap sekolah melihat bagaimana cara PBM yang mereka lakukan.
    Maka secara otomatis menularkan hal hal yang baru dalam PBM.
    Selama ini tidak ada contoh PBM yang secara langsung dilihat oleh guru guru gaya lama sebab kalau melihat vedio pasti ada editan editan.maaf jika salah kata.
    Terima kasih

  • Euis E. Syarifunilah berkata:

    Selalu mendukung dg perubahan kurikulum, selagi itu untuk kemajuan pendidikan. Apalagi untuk pendidikan karakter peserta didik.

  • Didin Waridin berkata:

    Bagusp

  • Didin Waridin berkata:

    Bagus

  • Nurhayati berkata:

    setuju sekali dengan Kurikulum frototype sangat sesuai pda msa pandemi merubah cara beljar dan vsa memilih pekajaran sesuai skil nya.serta untuk menyongsong pembelajaran agar siswa kebih memiliki pendidikan yang kebih maju tudak ketinggalan negara lain maka utu tergantung dri mandset guru d mna guru harus memiliki paradigma baru atau cara mengahar dengan inovasi baru

  • NUNUNG KUSTINI berkata:

    kenapa setiap ganti mentri harus selalu ganti kurikulum?
    kurikulum 2013 bsaya belum menguasainya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan