Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Fiksi » Literasi di Ada News

Literasi di Ada News

(113 Views) Mei 5, 2022 11:03 pm | Published by | 3 Comments
iklan

AdaNews.id – Sumedang. Dengan semakin menjamurnya platform-platform kepenulisan. Adanews.id menghadirkan sebuah rubrik baru yang akan mengasah kemampuan berliterasi para pembaca Adanews.id.Seorang penulis yang berpengalaman di platform, kami hadirkan sebagai pengasuhnya. Mulai pekan ini Adanews.id menyediakan rubrik cerpen atau puisi yang diasuh oleh Siti Auliya. Siapa saja bisa mengirim karya berupa cerpen atau puisi ke meja redaksi kami. Tentu saja setelah melalui kurasi, naskah terpilih akan tayang di sini. Siapa tahu sebuah karya yang tayang di Adanews.id, menjadi awal untuk menembus berbagai platform kepenulisan.

Kami menerima semua genre kecuali creepypasta dan gore. Nah, bagi pecinta literasi, tumpahkan semua perasaan dengan sebuah puisi atau cerpen, lalu kirim ke sini. Namun syaratnya bersedia melewati editor dulu, karena kami harus memastikan naskah yang tayang harus sesuai dengan kaidah kepenulisan. Tanda baca serta PUEBI dan KBBI.

Pengasuh rubrik ini adalah seorang penulis novel digital di platform luar negeri. Karyanya bisa dilihat di Goodnovel, Hinovel, Sago, GoNovel, Novelah, Fizzo, StarFm, Finovel, dll. Boleh dilihat profilnya di facebook dengan nama akun Siti Auliya. Apabila punya naskah bagus, jangan ragu untuk inbox atau email ke auliyasiti57@gmail.co . Mari berkarya!

Sebagai pembukaan ini adalah cerpen karyanya :

PELANGI SETELAH GERIMIS
Oleh : Siti Auliya

Aku tidak pernah membayangkan, dia hanya hadir di mimpi-mimpiku kini. Aku tahu namaku tak lagi terukir di hatimu, Rio.

“Dia lebih membutuhkan aku saat ini, Atala.”

Aku tidak mengerti ucapanmu itu. Bagai petir yang hadir tiba-tiba saat gerimis. Kupandangi dirimu yang berlalu. Meninggalkanku dalam kenangan yang semakin erat mendekapku.

Apa katanya? Memangnya dia pikir dirinya superhero, apa? Sehingga Rio lebih dibutuhkan Delia . Oke, kalian memang teman sedari orok. Namun aku kekasihmu, Rio. Lebih kuat posisinya. Hatiku sibuk menyanyikan ketidakberdayaan yang selalu muncul setiap menit.

Dalam kesedihanku kali ini, aku ingin berteriak kepada langit. Bertanya, mengapa Tuhan tidak adil? Membiarkan Delia merebut semua kebahagiaanku. Sementara aku, hanya memeluk lutut sambil mengurai hujan di mataku.

Delia, mendengar namanya pun aku enggan. Gadis cantik dengan prestasi segudang itu, mencuri dirimu dariku. Rio memang cocok dengannya. Dia sangat supel ketika bergaul, tak seperti diriku. Aku memang tidak punya apa-apa untuk kupersembahkan. Tak ada bunga atau puisi yang bisa membuatmu kembali.

Sering aku berlama-lama menatap ujung jalan. Berharap Rio datang membawa penyesalan. Sejak matahari terasa hangat sampai cuaca mulai dingin. Aku tetap berharap, tanpa jeda.

Langit di hatiku runtuh, Rio. Tidakkah kau ingin menjadi tonggaknya? Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersama. Ah … dia terlalu asyik dengan cinta baru yang mulai mekar. Dia tidak memberiku kesempatan lagi, bertanya tentang pelangi … padanya.

Di suatu hari yang mendung, akhirnya dia datang. Aku melihat wajahnya juga terlihat seolah-olah digelayuti awan. Namun, hilang sudah hasratku untuk bertanya.

“Aku … aku … minta maaf, Delia–“

“Dia meninggalkanmu atau berselingkuh?” Kupotong penjelasannya dengan cepat. Kupasang muka perang, sehingga dia terdiam.

Dia meremas rambut dengan gelisah. Berkali-kali mencuri pandang ke arahku. Aku tetap dengan muka perangku. Kini, malah meningkat selevel perang dunia. Langkah gontainya mengendurkan ketegangan di wajahku.

Enak amat, setelah merasa tersakiti minta maaf. Rumus dari manakah itu?

**

“Penyakit leukemia itu sudah menghancurkan segala mimpiku, Rio.”

Aku menoleh cepat saat kudengar ada seseorang berbicara. Seorang perempuan cantik dengan raut wajah terluka. Dia berjalan dengan seorang pemuda atletis. Aku berusaha menyembunyikan wajahku di balik map riwayat kesehatan. Saat aku tengah mengambil kartu pendaftaran, di lobi rumah sakit.

Ooh, ternyata dia sakit leukemia. Pantas saja dia lebih membutuhkan Rio. Ah, peduli amat! Dia sakit atau sehat, bukan urusanku.

Lho … lho, mereka malah ke tempatku kini. Sialan, kemana aku harus menyembunyikan diri? Sungguh pertemuan yang tak pernah kuinginkan.

“Atala!”

Nada suara Delia menyatakan dia pun tak ingin bertemu denganku. Begitu juga bajingan satu itu, Rio hanya mampu terdiam memandangku. Seperti biasa, muka perangku mewakili rasa di hatiku. Ya, kedua pecundang itu tak pantas dihadiahi keramahan.

“Atala … aku–“

“Aaah sudahlah.” Kukibaskan tanganku di muka perempuan itu. Segera berlalu dari hadapan mereka. Meninggalkan mereka dengan kecewa tergurat di mukanya, adalah pilihan yang tepat. Apakah gadis itu akan berkata, “Sebelum ajalku datang, aku minta maaf.” Tidak semudah itu, Marimar!

Hatiku sudah tertutup dengan segala hal tentang mereka. Aku tak peduli lagi. Empatiku musnah tergerus penghianatan mereka. Hatiku terbakar, hitam lantas menjadi abu.

Hari ini kembali kantung itu dipenuhi air. Perih mataku menahannya. Lama-lama luruh juga bersamaan dengan mendung di langit. Meluncur ke bentala, membasahi semesta.

“Jangan keterlaluan kepada diri sendiri, semua sudah ada yang mengaturnya. Seandainya dia diperuntukkan untukmu, kau tidak akan bisa mengelak. Namun, jika dia bukan untukmu. Sebesar apa pun cintamu, dia tidak akan pernah datang.”

Aku ulang-ulang kata itu. Kata-kata seorang ibu yang khawatir dengan kesehatan anaknya. Aku ulang lagi dan lagi, sehingga membentuk sebuah mindset di memori otakku. Perlahan-lahan air di mataku surut dan kering.

Namun hatiku sudah terlanjur patah. Terkoyak tanpa ampun. Tertatih-tatih kucoba menatanya kembali. Saat kulihat lagi cerahnya mentari, dunia ternyata tidak sesempit sakit hatiku. Masih banyak mata-mata yang basah ditempa kerasnya kehidupan.

**

Mentari pagi yang kembali cerah dalam hidupku. Tiba-tiba mendung lagi, saat angin menyampaikan pesanmu : Aku sedang di rumah duka, rumah Delia. Kuharap kau datang. Untuk memberikan penghormatan terakhir.

Ah, Rio.
Lelaki itu selalu berhasil memporak-porandakan hatiku. Ingin kupertahankan egoku dengan tak mendatangi rumah Delia. Namun, malaikat di hatiku berbisik, maafkanlah!

Bukan hal mudah saat harus mengalahkan diri sendiri. Begitu juga aku, teringat saat bunga itu terenggut paksa dari hatiku. Teringat setumpuk tisu selalu basah setiap malam. Saat mimpi-mimpiku berubah menjadi film horor. Terlalu banyak yang berubah sejak kepergian lelaki itu.

Bisikan malaikat ternyata lebih dominan menguasai hatiku. Selembar gaun hitam menemani langkahku menyusuri gang menuju rumah Delia. Bendera kuning menyambutku di mulut gang. Hatiku bergetar. Sekilas kuingat lagi penghianatan mereka. Aku kuatkan hati untuk terus menyusuri gang ini.

“Atala, akhirnya kau datang.” Bajingan itu menyambutku. Kulihat matanya bengkak, sepertinya dia menangisi kekasihnya semalaman.

Sekarang kau mengerti? Bagaimana rasanya kehilangan? Otakku tak bisa kuhentikan untuk menghujatnya. Kutatap wajahnya dengan perasaan kasihan. Simpatiku kusetel sempurna di wajahku.

Aku membiarkan lelaki itu menuntunku memasuki ruangan. Kulihat seseorang sedang menangis di samping jenazah. Mukanya menunduk dengan dalam. Aku duduk di belakangnya. Perempuan itu lama sekali menunduk. Seolah-olah dunia berpindah ke pundaknya. Rio yang duduk di sampingku juga menunduk. Lelaki itu menyentuh pundak perempuan itu, setelah lama terdiam.

“Delia,” bisiknya.

Siapa? Refleks aku meneliti orang di hadapanku itu. Betul sekali, itu adalah Delia. Aku menoleh ke arah jenazah di depanku.

“Dia ibuku. Di akhir hidupnya ibuku ingin sekali melihatku ada yang menjagaku. Satu-satunya teman lelaki di hidupku adalah Rio. Berkali-kali aku ingin menjelaskan kepadamu, tetapi kamu tidak pernah memberiku kesempatan. Semakin hari ibuku semakin parah. Aku tidak bisa meninggalkannya, untuk menjelaskan semuanya kepadamu. Akhirnya semuanya berlarut-larut. Aku hanya bisa minta maaf padamu, Atala. Kalau kamu ingin membenciku, aku bisa terima. Aku tak akan marah. Kini aku kembalikan milikmu, dan akan selalu menjadi milikmu. Cintanya tidak pernah terbagi.”

Kembali perempuan di hadapanku mengurai air mata. Semakin deras dari semula. Entah apa yang menyebabkannya semakin terisak. Aku tak mampu lagi berpikir. Terlalu drama untuk dipahami.

Awan bergelayut di langit mendung. Rio berjalan di sisiku. Delia masih terpekur di pusara ibunya. Sisa air mata membekas di pipinya. Aku merasakan apa yang dia rasakan.

“Aku antar kau pulang,” kata Rio.

“Tidak, aku bisa pulang sendiri. Dia lebih membutuhkanmu sekarang.” Aku memberi isyarat dengan daguku. Menunjuk ke arah Delia.

Aku melenggang meninggalkan mereka. Ringan sudah langkahku kini. Tidak kupedulikan tanda tanya dalam pandangan Rio.

Dia lebih membutuhkanmu … ya, dia lebih membutuhkanmu kini. Siti Auliya

Bandung, 5 Mei 2022.

Categorised in:

3 Komentar for Literasi di Ada News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan