Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Uncategorized » Mencoba Memahami Sikap FPI dan Urgensi Pembubarannya

Mencoba Memahami Sikap FPI dan Urgensi Pembubarannya

(185 Views) November 24, 2020 1:44 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id -Front Pembela Islam adalah Muhammad Rizieq Shihab, tak akan ada FPI tanpa Rizieq Shihab itulah ikatan antara keduanya, seperti gula dan manisnya, laksana garam dan asinnya.

Menurut berbagai sumber yang saya baca organisasi masa Islam ini di dirikan pada 17 Agustus 1998 di Pesantren Al Umm Tanggerang Banten oleh Rizieq Shihab dengan dukungan 20 ulama sepuh yang saat itu kerap berbenturan dengan penguasa Orde Baru.

Seperti banyak digaungkan oleh para petinggi dan anggotanya, ceruk pasar FPI ini lebih banyak pada urusan “nahi mungkar” walaupun dalam beberapa kesempatan juga tetap ber-amal ma’ruf.

Atas upaya nahi mungkar itulah kemudian dimata masyarakat Indonesia dikenal sebagai ormas yang kerap melakukan aksi kekerasan dalam memerangi hal yang menurut standar mereka itu maksiat.

Seperti melakukan Sweeping tempat hiburan malam, mengobrak abrik pedagang minuman keras, bahkan membubarkan warung makan yang masih buka saat Ramadan tiba.

Padahal secara hukum negara tak ada satu pun ormas yang berhak melakukan itu. Hal-hal yang bersifat menjaga keamanan masyarakat apalagi sampai membubarkan sebuah tempat yang dianggap melanggar aturan adalah kewenangan aparat hukum seperti Satpol PP, Kepolisian, dan beberapa kasus melibatkan TNI.

Semua pihak termasuk pemerintah tahu itu, namun di awal-awal terkesan dibiarkan saja oleh penguasa siapapun penguasanya.

Malah sampai titik tertentu FPI ini kadang dijadikan semacam bumper oleh alat negara dalam membantu memerangi berbagai hal yang menimbulkan gangguan dimasyarakat.

Akibatnya nama FPI terus menguat hingga kemudian menjadi ormas yang cukup diperhitungkan. Andai saja para penguasa di awal-awal masa reformasi bertindak tegas pada FPI dan menertibakan tindakan mereka, namanya tak akan sebesar saat ini.

Meskipun pada saat Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia sempat melakukan tindakan tegas terhadap mereka yang berujung ditangkapnya Rizieq Shihab yang kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan, tapi ormas Islam itu sudah terlanjur besar.

Di kancah politik nasional nama FPI mulai mumbul kepermukaan secara nyata pada saat tahun 2016 akhir, saat mereka menginisiasi gerakan masa membela Islam untuk melakukan aksi unjuk rasa atas pernyataan Ahok yang dianggap oleh mereka menghina Kitab Suci Al Quran.

Aksi yang kemudian dikenal dengan gerakan 212 membuat nama FPI dan Rizieq Shihab diperhitungkan dalam peta politik nasional.

Walaupun sebenarnya FPI ini sejak awal lahir memang kental dengan urusan politis bukan semata-mata urusan agama.

Cikal bakal FPI sendiri adalah Pam swakarsa yang saat itu konon katanya dibentuk oleh militer untuk menandingi masa mahasiswa saat reformasi 1998.

Teringat betul saya saat itu sehari sesudah Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden 18 Mei 1998, kami para mahasiswa saat itu masih menduduki gedung DPR/MPR tengah dalam masa euforia karena berhasil menurunkan Soeharto.

Selepas Dzuhur sekitar jam 2-an lah tiba-tiba dari arah depan pintu gerbang jln Gatot Subroto masuk serombongan orang berbaju putih dan bersorban merangsek masuk ke area halaman depan gedung parlemen tersebut.

Mereka berteriak-teriak.. Allahu Akbar..Allahu Akbar.. seraya mengacung-ngacungkan bambu, kami mahasiswa kaget juga saat itu, kemudian sempat terjadi bentrok ringan walau akhirnya mereka berhasil di halau oleh para mahasiswa.

Saya baru tahu kemudian bahwa mereka itu Pam Swakarsa bentukan aparat keamanan untuk mengusir kami para mahasiswa keluar gedung milik rakyat tersebut.

Pam swarkasa yang kemudian oleh banyak pihak disebut diorganisir atas inisiatif Wiranto yang saat itu merupakan Panglima ABRI, menjadi cikal bakal terbentuknya FPI.

Pam swakarsa ini kembali bergerak setelah FPI secara resmi telah didirikan, saat Sidang Umum MPR dilakukan pada bulan November 1998, mereka bergerak untuk mendukung sidang umum yang ditolak mahasiswa.

Tak lama kemudian masih dibulan dan tahun yang sama kali ini atas nama FPI, mereka bentrok dengan kelompok preman Ambon yang menurut kabar burung telah membakar sebuah mesjid di wilayah Ketapang Jakarta Pusat.

Kemudian bentrok ini menjadi kerusuhan berbau SARA yang diaebut Tragedi Ketapang. Rizieq Shihab saat itu langsung turun memimpin FPI dilapamgan, membakar semangat anak buahnya dan masyarakat disekitarnya.

Alhasil kerusuhan terjadi yang menurut data dari Persatuan Gereja-Gereja Indonesia mengakibatkan 11 gereja dan 2 gedung sekolah milik yayasan Kristen rusak parah.

Itu poin pertama dari sekian banyak deretan poin selanjutnya yang dihasilkan oleh FPI dalam kancah perpolitikan.

Poin-poin selanjutnya kita tahu sendirilah seperti apa hingga puncaknya pada gerakan 212 yang berefek besar terhadap proses Pilkada DKI Jakarta 2017.

Jika diamati awal kelahiran dan berbagai hal yang mengiringinya, FPI memang terlahir untuk aksi jalanan yang kasar cenderung sangat keras dan mungkin ini linier dengan ajaran Islam yang mereka pahami dan usung.

Makanya tak heran meskipun secara politik mereka saat ini sudah seperti mendapat tempat lebih baik, perilaku mereka cenderung tidak berubah, komunikasi yang digunakannya tetap komunikasi ala jalanan.

Alhasil gesekan antara FPI dengan masyarakat dan pemerintah intensitasnya kian tinggi dan tajam, karena mereka mempraktikan cara-cara kasar dan politik identitas keagamaan secara paripurna dalam setiap laku politiknya selama ini.

Setiap aksinya selalu mengatasnamakan Umat Islam seolah Umat Islam di Indonesia mendukung mereka, padahal faktanya tak demikian.

Hampir seluruh lapisan sosial masyarakat di Tanah Air kita tercinta ini pernah berkonflik dengan FPI. Mulai dari Presiden, anggota parlemen, politisi, pejabat negara, jurnalis musisi hingga ulama yang tak sepemahaman dengan mereka pun pernah merasakannya.

FPI sepertinya tak berminat untuk bisa memahami pihak lain, mereka hanya ingin merekalah yang dipahami.

Ya mari kita lihat dalam rentetan 4 hari pasca kepulangan kembali Rizieq ke Indonesia, mereka seperinya begitu egois dan benar-benar tak mempedulikan kepentingan umum, kecuali kepentingan diri mereka sendiri.

Bahasa yang dikeluarkan sangat arogan, seolah mereka memiliki standar hidup sendiri di Indonesia sepeeri negara dalam negara.

Semua itu terpampang jelas dihadapan kita, meskipun mereka itu tak pernah merasa salah dengan tindakannya tersebut, karena dogma agama yang diyakininya seperti itu.

Sikap FPI yang keras dan kasar itu menurut saya merupakan personifikasi sikap, ucap, dan laku Imam Besarnya Rizieq Shihab.

Lantas apakah dengan kondisi seperti ini FPI layak dibubarkan seperti yang diungkapkan Pangdam Jaya, Mayjen Dudung Abdurahman?

Banyak pihak tentu saja sangat setuju dengan tindakan pembubaran FPI ini, jika benar dilakukan. Meskipun kita tahu TNI secara administratif tak bisa membubarkan FPI.

Tapi ingat mereka tetap bisa memberikan rekomendasi agar pemerintah membubarkannya dengan alasan keamanan.

Namun harus diingat pula ada juga kelompok-kelompok dan politisi yang selama ini terbantu keberadaan FPI yang akan menentang habis-habisan pembubaran FPI ini.

Dan itu akan menimbulkan kegaduhan baru, selain itu kontribusi FPI bagi aktivitas kemanusiaan pun bisa lah dianggap keren, kualitasnya sudah teruji dan terbukti.

Mulai dari tsunami Aceh hingga bencana gempa dan tsunami di Donggala mereka berperan aktif menjadi relawan yang membantu para korban.

Mungkin FPI bisa mengubah sikap stylenya agar benturan dengan masyarakat umum dan pemerintah dapat di eleminir.

Sehingga pembubaran tak perlu dilakukan. Jika terus menerus melakukan tindakan yang meresahkan dan bersikap seenaknya tanpa mengindahkan aturan yang ada, tak ada jalan lain lagi selain dibubarkan. (Penulis Ferry W, analyst di salah satu lembaga negara).

Categorised in:

No comment for Mencoba Memahami Sikap FPI dan Urgensi Pembubarannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan