Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » Mengapa Ada Novel dan Tempo Terdepan dalam OTT Menteri KKP?

Mengapa Ada Novel dan Tempo Terdepan dalam OTT Menteri KKP?

(443 Views) November 25, 2020 7:35 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id.-Sebuah analisis cenderung liar dan cukup spekulatif, namun juga didasarkan pada fakta dan dugaan yang memiliki dasar argumentasi yang relatif kuat. Cukup menarik dan ada kecenderungan politis, ketika OTT KPK kali ini. Ada dua hal yang terasa janggal, sejak mendengar pemberitaan kasus ini.

Novel Baswedan

Penyelidik senior, mengapa ikut terdepan, dan seolah mau menampilkan citra NB yang lebih kuat. Media sudah mulai menampilkan citra itu dengan penyidik senior yang masih garang sebagai sebuah judul. Lho ada apa ini? Layak dong bertanya-tanya. Toh reputasi dan dugaan seperti apa keberadaannya cukup santer terdengar.

Pertanyaan selanjutnya, Ferdinand Hutahaean juga mengatakan KKP ini korupsi receh, jelas pembandingnya adalah DKI yang telah ada pelaporan kepada KPK konon sejak tiga tahun lalu. Lihat, tiga tahun lalu lho. Siapa yang dilaporkan? Anies Baswedan tentu saja. Ada kesamaan nama, ya memang bersaudara.

Posisi Anies Baswedan sedang sangat sulit. Bagaimana covid di Jakarta makin menggila dan malah membuat kerumunan yang ia sendiri hadiri. Makin terdesak. Polling dukungan pemecatannya cukup kuat. Santer terdengar bahwa akan ada upaya untuk itu. Masalah makin meliar dan menyasar ke sana. Upaya tampil dengan buku malah membuat ia makin jadi bulan-bulanan. Keadaan tidak lebih baik.

Kondisi ini perlu diselamatkan tentu saja. Apapun upaya bisa dilakukan, kini dengan OTT yang sudah sekian lama sepi terjadi lagi.

Tempo

Awal mula konon Tempo yang menyiarkan. Media lain belakangan. Mengapa ada kecurigaan? Seolah ada klik khusus Tempo dengan orang dalam KPK. Mereka sering mendapatkan bahan-bahan eksklusif, bahkan kalau tidak salah ada pula bocoran penyadapan. Mengakunya sih investigasi, tapi kog susah percaya dengan kemampuan mereka yang seperti itu.

Narasi yang dibangun Tempo juga cenderung memojokan pemerintah, khususnya Jokowi, dan memberikan ruang pada Anies Baswedan. Tentu saja ini subyektif, namun empiris terlihat sangat jelas dan mencolok. Bisa dicek ke Tempo.

Ketika mereka lagi-lagi terdepan, wajar dong ketika ada kecurigaan, apalagi koq fokusnya juga masih saling berkelindan. Upaya untuk melindungi pihak tertentu juga tidak mudah untuk dikesampingkan begitu saja.

Motif

Mengapa menyasar KKP dan bukan yang lain. Pelemahan pemerintah dengan memainkan sentimen pilpres dua periode. Sikap PDI-P dan Gerindra yang mesra, hangat, dan saling dukung itu merugikan. Mereka perlu dipisahkan. Bagaimana selama ini selalu sukses dalam banyak agenda. DPR susah bergerak. Dua parpol gede ini menyatu semua lewat.

Nah, sikap curiga ini bisa dibangun, dipanas-panasi agar rengggang dan ada kesempatan untuk menyalip di tikungan. Kalau tidak hati-hati bisa berabe, bagi negara, bukan semata pemerintahan atau presiden saja.

Kelompok radikalis makin terpojok dan kepepet ketika dua partai nasionalis ini menyatu. Perlu diingat bagaimana isu Taliban di KPK. Apakah mereka menyerah begitu saja? Tentu saja tidak. Gerilya dan melakukan banyak hal dengan penguasaan medan KPK yang jauh lebih lama, solid, dan tentu saja agenda jelas, mereka bisa “mengalahkan” komisioner. Lagi-lagi ini spekulasi namun bukan ngawur tanpa dasar.

Jika benar, ini sangat berbahaya. Mengapa?

KPK ada bagian inti yang lebih berkuasa dan sangat mungkin bisa mengendalikan KPK di luat komisioner. Menakutkan dengan keberadaan mereka yang seolah di luar kendali lagi. Ingat bagaimana WP mereka begitu ugal-ugalan dalam membentengi diri dan menolak UU KPK beberapa waktu lalu. Diam apakah menerima? Belum tentu. Menggunting dalam lipatan juga sangat mungkin.

UU dan Dewas menjadi percuma, jika perilaku mereka masih sama. Perlu pembuktian dan penyelidikan lebih dalam lagi, sehingga tidak ada kecurigaan bahwa mereka bermain-main dengan lembaga. Jangan sampai unsur politis era Bambang dan Samad terulang lagi. Ini lebih mengerikan karena levelnya malah menengah, bisa mengerikan dampaknya.

Keadaan tidak aman karena orang atau pejabat bisa saja terjebak oleh perilaku yang memang sudah disiapkan dan kemudian diincar oleh para “mafia” ini. Isu barang bukti dan tukar guling kasus dengan kost-kostan juga tidak pernah lagi diungkap. Mengapa?

Ini semua bukan tudingan apalagi tuduhan, namun sebentuk tanya atas berbagai keanehan dan kejanggalan dalam menangani kasus. Pelaporan begitu lama, gamblang, dan ada preseden buruk namun dibiarkan saja. Eh tiba-tiba malah menangkap seseorang di tengah berbagai polemik yang meyasar kelompok tertentu.

Layak ditunggu keterangan dari komisioner dan dewan pengawas. Jangan sampai ini adalah operasi “liar”. Fakta yang mengerikan ketika tindak korupsi tidak juga berkurang, malah seolah makin menggila selama ini. Jangan-jangan malah sapunya itu selain kotor juga sudah usang. Mesin berkarat jangan berharap menghasilkan produk sesuai harapan. Beracun jika untuk produksi makanan sangat mungkin. Layak ditunggu kelanjutannya ini. **Susy Haryawan

Categorised in:

No comment for Mengapa Ada Novel dan Tempo Terdepan dalam OTT Menteri KKP?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan