Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Fiksi » PARIPURNA

PARIPURNA

(138 Views) Mei 18, 2022 9:31 am | Published by | 1 Comment
iklan

Oleh : Titus Artemius

Aku menulis luka di hatimu dengan sempurna

Mengikatnya dengan air mata

Terbasuh darah yang bergandengan dengan nestapa

Aku biarkan jiwamu menggelepar tersiksa

Di antara deret aksara tak bermakna

Di sela malam bergelimang kerinduan

Memasungmu sendirian

Di sudut kamar kesepian


Aku berharap esok hari kau bebas

Jiwamu bisa terbang lepas

Hentakkan sayapmu mengarungi angkasa luas


Pintaku, jangan kembali

Biar paripurna kisah ini

Tiada lagi yang tersakiti

Baik kau atau aku nanti

Aku sudah tak mampu lagi menangis, saat harus mengingat kembali semua yang terjadi di antara kami. Mungkin air mataku sudah habis karena kepedihan yang dia torehkan dalam hidupku. Padahal aku sangat menyayanginya. Bahkan, jika ada yang bertanya apakah aku rela berkorban nyawa untuknya? Pasti aku akan mengangguk tanpa banyak kata, dan tak akan ada keraguan menjawabnya.

Saat itu, aku masih terbuai dan terlena dengan segala sikap dan perhatiannya. Ya … boleh dikata bahwa aku menjadi budak cinta wanita cerdas itu. Perasaan sayangku tidak terkikis sedikit pun sebelum semua kekacauan dan kehancuran ini terjadi.

Benakku terus saja bertanya-tanya ….

“Bagaimana mungkin, seorang yang aku percaya dan sayangi, tega menghancurkan indahnya impian yang sedang kubangun? “

Beribu tanya berkecamuk di dalam dada, tetapi tidak ada satu pun kutemukan jawabnya. Aku selalu terkenang, ketika dia tidak mampu mengontrol emosi dan kemarahan yang mendera, maka saat itu juga semua akan dia libas tanpa sisa. Seketika itulah, rasa simpati dan empatiku kepadanya musnah tak berbekas dan hanya meninggalkan lebam biru pada sisi terdalam hatiku.


Desir hatiku mengurai perih saat mengenang kembali semua yang telah terlewati. Hanya luka dan kecewa yang aku rasakan atas sikap dan perlakuannya. Aku terluka. Menangis tanpa keluar air mata.


**

Di bawah pohon yang rindang, di taman kota yang biasa aku jadikan tempat untuk mencari ketenangan, aku mencoba mencari arti dari sebuah kesetiaan yang berbalas caci maki dan juga hancurnya harga diri.  

Bunyi gesekan daun yang digerakkan oleh semilir angin, mampu memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi jiwaku yang haus akan kedamaian. Entah kenapa aku sangat suka berteduh di tempat seperti ini. Bagiku, menenangkan diri di bawah pohon rindang, teritis, atau sekedar di bawah papan reklame jalanan, sedikit banyak membantu mengembalikan kewarasanku.


Panas? Ya jelas, tapi panas matahari bukan hanya aku saja yang merasakannya, ‘kan?  Semua makhluk hidup di dunia ini pun sering kali dibuat gerah oleh sang penguasa terang.

Aku adalah lelaki yang selama ini berjibaku menghadapi kerasnya hidup. Tak terhitung lagi caci maki atau pun perlakuan yang sering kali tak manusiawi aku dapatkan. Bahkan dari orang terdekat yang ada di sekelilingku sendiri pun, hal buruk itu tak jarang aku rasakan. Aku tetap berdiri. Tegar seperti saat ini.

Namun, aku hanyalah manusia biasa. Sesekali aku pun ingin berlindung dari terpaan itu semua. Aku pun ingin merasakan dipeluk, bukan hanya dipukul, atau dihantam agar kedewasaanku terbentuk. Mungkin dahaga ini yang menyebabkan aku suka berlindung di tempat yang menurutku aman.

Wanita terpilih itu tidak pernah mau menyadari karakter dari seorang pria sepertiku. Lelaki, sejatinya adalah seorang bocah yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. “A boy with man’s body”. Kami lebih memilih menangis dalam diam, tanpa air mata. Tetapi percayalah, tangisan lelaki jauh lebih menyayat hati daripada tangisan seorang wanita. Mengapa? Karena mereka dituntut untuk selalu tegar dan  kuat di hadapan semua orang.

Kalau boleh jujur, aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Aku sadar bahwa meninggalkan dia, bukanlah suatu perbuatan yang benar. Namun, pilihan sulit itu telah aku putuskan ketika memilih kembali ke tanah kelahiranku. 


Aku tidak sedang mencari pembelaan atas perbuatanku, dan juga tidak mencari pembenaran. Jika dia tahu, aku hanya membutuhkan sedikit ketenangan. Memang benar kata banyak orang bahwa urusan hati dan cinta itu bukanlah keahlianku. Aku tak pernah bisa mempertahankan keduanya dalam satu garis yang lurus dan melangkah sejalan beriringan.

Langit siang semakin kelam. Awan hitam menggantung siap turunkan hujan. Aku masih termangu dalam diam. Gamang. Keresahan, pun kegundahan berkuasa atas jiwaku yang sekarat dihajar kenyataan.


***

Banyak anak kecil  terlihat riang bermain-main di taman. Mereka memperebutkan bola sepak yang terbuat dari plastik. Mereka tertawa lepas tanpa beban, ketika tiba-tiba titik-titik air hujan turun dengan deras membasahi tubuh mereka. Anak-anak tetaplah anak-anak, tak peduli tubuh mereka menggigil karena derasnya hujan yang sesekali berselingan dengan petir. 

“Om, lemparkan bolanya kemari, dong!”

Seorang anak kecil berteriak ke arahku, saat bola yang dia tendang bergulir di dekat kakiku. Tanpa pikir panjang. Aku berlari sambil membawa bola plastik itu ke arah mereka. Aku tertawa sambil menggiring bola. Derasnya hujan ternyata mampu meredakan gundah yang aku rasakan. Anak-anak kecil itu bersorak kegirangan saat melihatku datang dan ikut larut dalam permainan.

Hujan kali ini kembali menyelamatkan otakku dari kegilaan, akibat dari sikap dan tingkah laku wanita yang selama ini membersamaiku. Hujan ini seakan-akan mengerti tentang panasnya hati yang sedang meletup dalam diri. Aku melarutkan kepedihan, seiring derasnya tetes air hujan.

********

Lekat kupandang cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin ini, dulu aku beli dengan honor menulis pertamaku. Aku menyimpannya begitu lama, hanya demi seorang wanita yang nantinya akan menemani, menghabiskan sisa usiaku di dunia.


Nanti, dengan bangga aku akan menyematkan cincin ini di jari manis seorang wanita. Saat semua orang yang hadir berseru “Sah!”, maka aku akan memeluknya dengan segenap rasa cinta, mencium kening dan kedua pipinya, dan akan kuhapuskan setiap bulir air matanya dengan perasaan bahagia.

 
Cincin inilah yang selama ini menjadi penyemangat diri di mana saja aku berada. Menjadi pengingat bahwa satu saat nanti akan ada hati yang harus kujaga, akan ada wanita yang menungguku pulang, dan mendoakan diriku agar diberikan keselamatan dan rezeki yang lancar.


Hari ini, seharusnya cincin ini bisa tersemat di jari manisnya. Sebagai tanda bahwa kami berdua telah bersama dalam satu ikatan janji cinta. Namun, kini semua telah berakhir. Duniaku kembali sepi. Tak akan ada lagi suara yang membangunkanku di kala pagi. Tak akan ada bunyi ponsel yang berdering belasan bahkan puluhan kali. Tak akan ada lagi, rentetan pesan yang panjangnya tak kalah dengan panjang rangkaian gerbong kereta api.

Cincin ini masih setia melingkar di jari manisku. Bukan lagi sebagai penyemangat hati, tetapi tak lebih dari saksi bahwa aku gagal untuk yang kesekian kali. Tak terasa perdebatan panjang bergolak melanda dalam jiwa. Satu sisi hati memintaku untuk kembali, satu sisi lainnya berkata bahwa aku bisa berbahagia dengan keadaan seperti ini.

Seandainya saja dia ada di sini, ingin sekali aku memberinya maaf dan meminta padanya untuk yang terakhir kali. 

“Jangan terlalu mengekang dan membatasi kebebasan diriku. Aku tahu pada siapa harus kembali. Sekuat-kuatnya kakiku digelangi rantai besi, akan semakin kuat juga hati ini meronta untuk pergi. Bahkan jika harus memenjarakan diriku, raga ini akan mencari seribu cara untuk melepas dan membebaskan diri.”


Seharusnya dia sadari semua itu. Aku hanya ingin agar dia mampu melepaskan semua beban pikirannya karena diriku. Biarkanlah aku terbang, pasti akan kembali padanya. Jika saja dia mampu memberi aku kenyamanan dan kebebasan dalam berkarya, aku tak akan pernah pergi. Hanya sedikit pengertian itulah yang aku butuhkan saat ini.

Namun, semuanya kini terlambat sudah!

Jika dari awal dia benar-benar paham, dia akan tahu apa yang terbaik untuk diriku. Aku pasti tak akan pernah pergi. Kecuali dia menjadi pasangan yang terlalu posesif dan malah bertindak memata-matai hidupku, maka aku tak akan pernah bisa menurutinya. 

Lelaki itu egois, tapi yakinlah bahwa dia hanya punya satu hati, dan itu hanya untuk satu wanita. Percayalah, tak perlu bersikap layaknya penyidik dan penyelidik, yang justru akan merenggangkan sebuah kedekatan yang tengah terjalin. Lelaki bukanlah seorang terdakwa, apalagi seorang tahanan yang harus setiap detik diawasi dan diamati. Justru hal itu akan semakin menyusahkan dan menyakiti diri sendiri. 

“Kau ingin damai? Kau ingin bahagia? Bebaskan pikiranmu dari hal buruk tentang pasanganmu, agar tak membebani hidupmu sendiri. Pahami itu, wahai wanita!”


Aku kembali tenggelam dalam diam, menyadari bahwa semua yang terjadi tak akan dapat diputar kembali. Pada akhirnya waktulah yang memutuskan apakah kepergianku akan dikenang atau justru menjadi kesempatan untuk benar-benar melupakan.

Aku pun tak sempat berpamitan, pada ruang juga waktu di mana aku pernah berada di situ. Hanya sekilas pandang, ketika langkah kakiku menuju keluar. Meninggalkan semua yang telah menjadi kepingan dan serpihan kisah sebuah perjuangan. Aku pernah berkata bahwa mencintaiku itu menyakitkan. Tetapi jika sedikit mau bersabar, dan bisa membuatku jatuh cinta, aku pastikan akan tetap bertahan meski perih beban kusandang.


Satu hal yang aku inginkan, berilah aku kebebasan untuk tetap mencintai tanpa harus menukarnya dengan duniaku. Ketika aku kehilangan kebebasanku, maka bisa dipastikan saat itu pula aku mati rasa. Bukan saja terhadap seorang wanita, tapi juga terhadap cinta itu sendiri. 


”Biarkan aku mencintaimu dengan caraku, karena dengan cara itulah aku bisa memberikan semua perhatian, cinta, juga rasa sayang. Tolong, tak perlu kau kekang aku untuk melangkah, tak perlu kau rantai kaki dan tanganku agar tak pergi. Aku tak akan menghilang ketika memang kau bisa membuatku mencintaimu dengan hati yang lapang.

Jika engkau memaksaku untuk tetap bersamamu, sedangkan rasa itu perlahan sirna, maka sama saja dengan membunuh diriku secara perlahan. Lalu ketika aku menghilang, sakit yang kau rasakan akan melebihi saat kau tertusuk duri tajam. Kau akan dirajam kesepian, merindukan perhatian yang  selama ini kuberikan. Kau bisa saja berkata ‘aku baik-baik saja’, tapi kau tak akan bisa menipu tetesan air mata yang mengalir bersama rindumu yang tak akan lagi bisa kau sampaikan untukku.

Kau bisa mencari penggantiku, tapi yakinlah, tak akan ada di luar sana yang seperti diriku. Karena aku, cuma satu!”

***

Bionarasi

Titus Artemius, menulis baginya adalah ungkapan kebebasan jiwa. Lahir dan besar di Kota Solo, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menulis cerpen, puisi, juga naskah-naskah pementasan teater. Sederet Antologi dan beberapa buah novel baik kolaborasi maupun novel solo, telah dibukukan olehnya. Baginya, saat-saat berproses menciptakan sebuah karya adalah proses pengungkapan satu kejujuran terhadap hidup dan semesta yang menyertainya.

Akun Medsos :

https://web.facebook.com/TitusArtemiusOfficial/

https://www.instagram.com/titusartemius.official/

Tags: , , ,
Categorised in: ,

1 Komentar for PARIPURNA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan