Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » Poros Anies-Rizieq-JK Hanya Numpang Lewat

Poros Anies-Rizieq-JK Hanya Numpang Lewat

(752 Views) November 25, 2020 7:47 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Romansa apik yang terjadi pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 sepertinya ingin kembali diciptakan pada Pilpres 2024 mendatang. Pilkada yang memantik polarisasi agama dan politik identitas itu dimenangi pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno.

Di luar adanya dukungan partai politik dan “bantuan” suara dari pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) – Sylviana Murni kemenangan Anies – Sandi tak lepas dari kontribusi Muhamad Jusuf Kalla (JK) dan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS).

JK dan HRS pada Pilgub DKI 2017 memang memainkan perannya masing-masing dengan sangat baik. Sebagai tokoh politik nasional cukup berpengaruh dan begitu dihormati oleh Partai Golkar, JK sukses mendorong Anies jadi calon gubernur ibu kota.

Padahal sebelumnya nama mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut hampir tidak pernah disebut-sebut masuk bursa pencalonan. Beda dengan Sandiaga Uno yang jauh sebelumnya telah mempromosikan diri lewat tayangan iklan di hampir seluruh televisi swasta nasional.

Sementara peranan HRS dan kelompoknya sukses menciptakan polarisasi agama dan politik identitas, serta menggempur habis-habisan calon petahana. Yakni, pasangan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) – Djarot Syaiful Hidayat.

Hasilnya sama-sama kita ketahui bersama, pasangan Anies – Sandi mampu membalikan prediksi sejumlah pihak. Mereka sukses mengalahkan pasangan Ahok – Djarot.

Kisah sukses ini sepertinya ingin diulang kembali oleh JK. Banyak dikupas beragam media massa, mantan wakil presiden dua kali dengan presiden berbeda ini adalah aktor dibalik kembalinya HRS ke tanah air.

Andai benar, sudah hampir dipastikan kepulangan HRS sengaja akan dimanfaatkan JK untuk kembali menjadi juru gedor, sekaligus pengungkit elekatbilitas, popularitas dan dukungan terhadap Anies Baswedan seperti pernah dilakukannya pada Pilgub DKI 2017.

Dengan praduga, asumsi dan spekulasi ini pula akhirnya muncul poros baru yang katanya siap meramaikan Pilpres 2024. Poros dimaksud adalah Anies-Rizieq-JK (ARJ).

Tak ayal, munculnya poros ARJ cukup menghangatkan tensi politik tanah air. Apalagi, sebelumnya ketiga tokoh poros ini terlibat dalam satu permasalahan yang saling keterkaitan.

Masalah tersebut adalah soal kerumunan massa yang dipicu HRS. Akibatnya, Anies harus memenuhi panggilan Polda Metro Jaya. Sementara Rizieq gigit jari. Reuni akbar PA 212 yang sejatinya digelar pada 2 Desember 2020, batal. Karena tidak mendapat izin. Malah, baliho Rizieq yang banyak terpasang di sepanjang ruas jalan Petamburan dipreteli pihak Kodam Jaya.

Buntut dari cibiran, nyinyiran serta turunnya pasukan Kodam Jaya menjadikan JK bersuara. Suaranya ini kemudian menyulut narasi kontroversial.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menyebut di Indonesia telah terjadi “kekosongan pimpinan”. Kemudian dengan bangganya menilai HRS sebagai pemimpin kharismatik.

Peristiwa saling berkaitan diantara ketiga tokoh itu pula yang membuat poros ARJ makin diyakini keberadaannya. Sepintas memang akan bisa mengancan eksistensi poros lain. Meski sebenarnya, bisa saja hal itu hanya euforia yang terlalu dibesar-besarkan.

Dalam konstelasi politik kekinian, poros ARJ jelas hanya gaung tanpa makna. Mereka terjebak suksesi masa lalu. Dimana masing-masing tokoh tengah dalam puncak performa.

Hari ini, situasi terbalik. Ketiganya malah bisa disebut sedang berada pada posisi kurang menguntungkan.

Rizieq Shihab

Tak dipungkiri, pendukung Imam Besar FPI ini begitu masif. Tapi, dengan kejadian kemarin, dari mulai kerumunan massa, perseteruan dengan Nikita Mirzani, hingga terjadi pencopotan baliho sedikitnya membuat publik sadar, Rizieq Shihab bukanlah manusia super. Dia sama saja warga negara biasa. Bahkan tak sedikit pihak yang mengolok-oloknya.

Anies Baswedan

Gubernur DKI Jakarta ini sebetulnya sempat mendapatkan panggung kembali saat awal-awal pandemi. Sayang momentum itu tak mampu dipertahankan.

Sikap oposannya dengan pemerintah kerap membuat Anies terjebak dalam situasi kurang menguntungkan. Puncaknya terjadi saat dia sowan dan menghadiri pernikahan putri Habib Rizieq. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut kembali menjadi bulan-bulanan publik, yang membuat pamornya anjlok seiring apriori rakyat terhadap Imam Besar FPI.

Jusuf Kalla

Pengaruh politik JK jelas tak sekuat saat masih aktip dalam politik praktis. Pernyataannya soal “kekosongan kepemimpinan” dan dugaan dibalik kembalinya Habib Rizieq ke tanah air semakin menjadikan pengaruh politiknya meredup.

Dengan kekuatan ketiga tokoh ini yang mulai digembosi, sepertinya berat untuk mengulang sukses. Terlebih level yang bakal dihadapi nanti adalah Pilpres 2024, yang persaingannya lebih ketat dan keras.

Dan, yang paling utama, kelemahan poros ARJ tentu saja partai politik. Kecuali JK yang masih tercatat kader Partai Golkar, itupun pengaruhnya sudah sangat kecil. Sedangkan Rizieq dan Anies tidak masuk kader partai manapun.

Artinya butuh perjuangan berat untuk mencari partai pendukung bila poros ARJ ingin tetap eksis. Bila tidak, poros ini hanya akan numpang lewat. Dan, JK akan kembali terlempar dari orbit politik nasional.

Sementara Anies asal bisa menghitung benar langkah serta mempertahankan elektabilitasnya, masih memiliki kesempatan menghangatkan Pilpres 2024. Dia bisa saja dipinang partai politik. Sebut saja PKS.

Namun, itu artinya bukan lagi poros ARJ. Iya, kan? (Teguh Safary)

Categorised in:

No comment for Poros Anies-Rizieq-JK Hanya Numpang Lewat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan