Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Edukasi » PUISI BUKAN HANYA KREATIVITAS BELAKA

PUISI BUKAN HANYA KREATIVITAS BELAKA

(330 Views) November 19, 2021 10:13 pm | Published by | 9 Comments
Ai Neni Suhaeni Guru Bahasa Indonesia SMPN 3 Cimalaka Sumedang
iklan

AdaNews.id- “Sebuah sajak yang menjadi adalah sebuah dunia. Dunia yang dijadikan, diciptakan kembali oleh si penyair” (Khairil Anwar)
“Membaca puisi adalah menangkap kilatan-kilatan dan perasaan yang diungkapkan penyair. Seorang pembaca akan segera tergetar perasaannya dan merinding bulu kuduknya jika kilatan-kilatan pikiran dan perasaan yang ditembakkan sang penyair mengenai sasarannya, yakni pikiran dan perasaan pembaca yang terdalam” (Acep Zamzam Noor)
Berdasarkan kutipan di atas ditegaskan bahwa sebuah sajak/ puisi akan bisa mengubah dunia bahkan menciptakan dunia baru, jika si penyair dapat menyampaikan apa yang menghiasi isi kepalanya dengan tepat dan mengenai perasaan si penikmat puisi. Disadari atau tidak si penikmat akan ikut terlena dengan apa yang ditulis si penyair, sehingga tercipta komunikasi interaktif antara keduanya.
Ditegaskan kembali oleh Acep Zamzam Noor bahwa membaca puisi adalah menangkap kilatan-kilatan pikiran dan perasaan yang diungkapkan penyair. Artinya disadari atau tidak ada semacam daya pacu pembaca untuk bergegas menemukan makna yang ada pada puisi yang dibaca.Memungut makna yang tersirat dalam tiap diksi, baris dan bait. Lalu menafsirkan daya ungkap yang ditulis penyairnya.
Penikmat puisi bisa diibaratkan penyelam. Ketika bersentuhan dengan air maka ia akan bergerak dan berusaha menyelam hingga ke dasar. Jiwa petualangnya akan membawa menemukan jawaban atas rahasia di dalamnya. Menyusuri secermat mungkin setiap sudut, membiarkan rasa ingin tahunya liar untuk menghilangkan rasa kepenasaran. Demikian halnya, seorang penikmat puisi ketika sedang menikmati puisi, ia akan melakukan berbagai cara untuk melenyapkan rasa kepenasaran dengan berpikir bebas dan berapresiasi sesuai penafsirannya.
Begitu pun dengan si penulis puisi/penyair, ia akan berusaha menyampaikan imajinasinya secara mendalam, akan berusaha menyampaikan rasa dengan diksi yang tepat. Dalam hal ini jelas sudah bahwa puisi itu bukan semata hasil kreativitas, tetapi lebih pada kejujuran ungkapan perasaan yang dirasakan penulis puisi/penyair.
Sebagai seorang penulis puisi pemula, saya tak henti-hentinya berusaha untuk bisa menciptakan kilatan-kilatan pikiran dan perasaan hingga dapat menyentuh rasa terdalam si penikmat puisi. Saya merasa bangga jika puisi yang saya tulis mampu menghadirkan imajinasi liar bagi para penikmat puisi, sehingga terciptalah apresiasi yang mengagumkan sesuai penafsirannya.
Pada kesempatan ini, saya mencoba menampilkan beberapa puisi dengan tema yang berbeda. Semoga dapat mengundang imajinasi liar bagi penikmat puisi.

LERENG TAMPOMAS

Ada titipan salam dari lereng Tampomas
Dia bilang…
Berikan kecupanku pada Lereng Tampomas
Sudah lama kami tak saling mengerti
Mengapa lautan pasir tega memisahkan kami

Ada pelukan sayang dari Lereng Tampomas
Dia katakan…
Sampaikan cintaku pada gumpalan batu alam
Sudah lama kami tak saling menyapa
Bercanda tentang indahnya rimba
Padahal cintaku terasa semakin tua

Ada tanda cinta dari Lereng Tampomas
Dia berbisik lirih…
Berikan jiwaku untuk hijaunya rimba
Biarkan kami kenang pudarnya janji
Saat jejak penguasa kian memudar
Serupa kisah usang tak tersentuh

Sumedang, Maret 2019

KENANGAN

Suatu senja
Pada suatu laman
Bersama sesuatu yang disebut kenangan

Aku meniup ujung rambutmu yang harum
Angin pun melakukan hal yang sama
Sekuat tenaga aku bertahan
Kalau tidak…
Angin akan mengambilmu dariku

Sesaat kau tersenyum
Semanis madu
Membuatku salah tingkah

Kau menggenggam ujung jemariku
Yang menghitam terbakar senja
Merasakan debar jantung nyaris sampai di sana
“Dengarkan pasir berbisik, mereka sedang mengumpulkan gelombang” katamu
Berdesir darahku…
Memerah ujung telingaku..
Kuikat hatimu agar tak terjatuh, dan kupeluk ranum tubuhmu
Namun…
Gelombang yang garang sesaat ciptakan kenangan

Sumedang, Desember 2019

Kau

Kau memintaku menuliskan puisi tentang apa saja
Padahal aku sedang menghindari metafora
Aku lebih suka berburu senja
Dari raut wajahnyalah aku bisa memahat bait-bait tentang cahaya

Kau ingin aku merangkai sajak dari remah-remah yang jatuh
Padahal aku sedang tidak ingin bermimpi
Aku lebih menyukai berbincang dengan senja
Menanyakan tentang majas sunyi,
Yang dibawa oleh matahari

Sumedang, Januari 2021

Secangkir Kopi Senja

Pernah kau bisikkan kata cinta kepadaku
Di suatu senja yang tidak lagi ramah
Gerimis pun iba pada air mata

Kau goreskan syair luka pada secangkir kopi
Kau hempaskan pada senja hingga pecah berkeping

Sungguh…
Aku jatuh cinta pada caramu menerjemahkan luka
Kau biarkan senja terjatuh pada secangkir kopi yang mulai membeku
Dan…
Kau tertunduk lesu karena malam telah mencuri senjamu

Sumedang, Maret 202

Buku Puisimu

Entahlah ini senja yang keberapa
Kubuka kembali buku puisimu
Kucoba pahami baris aksara yang tertulis
Selalu ada rindu di setiap baitnya
Aroma sayang kuhirup dari setiap sudut tintanya
Membuai penuh rasa cinta pemiliknya

Setiap membaca buku puisimu
Kutandai lembarannya dengan aneka bunga
Di halaman bernuansa cinta
Kuselipkan bunga mawar merah
Berharap tak sia-sia
Sampai takdir memilihku

Sumedang, Juni 2021

Bionarasi

Ai Neni Suhaeni

Ai Neni Suhaeni, saat ini mengajar di SMPN 3 Cimalaka mata pelajaran Bahasa Indonesia. Selain mengajar sebagai tugas utama juga sebagai seorang penyuka, penikmat, penggila sastra. Mulai menulis puisi, cerpen sejak dari bangku sekolah, karyanya sering dimuat di majalah remaja yang terbit pada masanya. Karya-karyanya yang telah dibukukan, Bermula Kata Berbatas Puisi ( 2017), Senja di Jatigede (2019), Nabastala (2020), Aku dan Sumedang (2020), The Best Poetry of KPSI 3 (2021), Dari Impian Denyang sampai Affogato (2021)

Categorised in:

9 Komentar for PUISI BUKAN HANYA KREATIVITAS BELAKA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan