Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » Risma Menggema, Anies Meringis

Risma Menggema, Anies Meringis

(135 Views) Januari 9, 2021 5:38 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Pemberitaan menyebutkan Anies belum sembuh dari derita covid 19. Salah satu pengamat malah menudingkan dugaan adanya stres selain derita covid sehingga menjadi lama. Wagub yang sama-sama positif sudah mulai bekerja. Eh tidak disangka, Mensos Risma berkeliling Jakarta dan menemukan betapa banyaknya pengemis dan hunian di kolong jembatan.

Tiba-tiba saja sembuh tanpa ba bi bu dan mulai bekerja kembali. Ada yang aneh, apakah beneran positif atau malah hanya sekadar menghindari pemeriksaan atas kasus Rizieq? Hal yang sangat mungkin, karena model pendekatan dan cara menyelesaikan masalah itu biasanya demikian. Kebetulan ada covid. Makin mudah untuk mengamuflasekan keberadaannya.

Ada beberapa indikasi atau tanda-tanda kalau hanya “pura-pura”, hanya satu pasien ini yang tetap tanpa masker dan ada pihak lain dengan APD dan dibagikan photo itu. Aneh, kalau positif akan mengenakan masker, meskipun badan sehat dan tetap beraktifitas, benar pihak lain ber-APD. Ketika hal ini diusik, tidak berapa lama, tampil lagi mengenakan masker dan ada kaca, ada yang menyambut dari balik kaca itu. Aneh tidak, ketika berinteraksi langsung tanpa masker, bahkan cengengesan, eh pas ada kaca sebagai pembatas.

Jika serius menderita, tidak akan ada drama model demikian. pengarah gayanya ngaco lagi, sehingga malah menjadi bahan bully-an dan candaan semata. Tentu bukan hendak menjadikan penderiaan sebagai bahan olok-olok, tetapi bagaimana reputasinya di dalam bermain peran sudah teruji.

Risma datang sebagai Mensos baru yang memegang tampuk kursi kementrian panas. Sudah dua menteri dari pos sosial yang masuk bui KPK. Keadaan yang sangat berat tentu saja, apalagi di tengah pandemi yang makin kuat akhir-akhir ini. Tipe pekerja, bukan birokrat belakang meja. Apa yang ia lakukan langsung turun ke jalan dan menemukan kantong-kantong kemiskinan yang sudah seharusnya hilang dari ibukota.

Tanpa lama, koor dan paduan suara mencerca Risma pun menggema. Khas oposan tanpa kerja, diwakili PKS. Berlebihanlah, mencari panggung untuk pilkadalah, atau malah balik menuding Surabaya juga banyak warga di kolong jembatan. Hal yang wajar sebenarnya mau mengatakan apapun kepada pemerintah, namanya juga oposan.

Aneh dan naifnya adalah oposan itu seharusnya melakukan kritik pada bagian pemerintah yang tidak bekerja, nganggur, apalagi kalau ngaco. Selama ini, sampai Mensos Juliari ditangkap KPK, tidak ada satu katapun terucap kritikan kepada mensos lama itu. Atau pada menteri KKP juga. Oposan aneh dan lucu, kerjanya memang melakukan kritik, tapi mbok yang memilii mutu bukan sekadar beda. Apalagi malah menghajar orang bekerja, itu kan ngaco.

PKS lagi mati kutu, bagaimana belahan jiwa mereka satu demi satu mulai dipancung pemerintah. HTI bubar, FPI andalan akhir pun tumbang juga. Meskipun mereka ini punya jalan dan agenda masing-masing, toh akan tetap bekerja sama dulu, bahwa nantinya akan saling bunuh dan saling tendang urusan nanti. Harapan redup itu ada pada Anies semata kini.

Mereka memang partai kader, sangat militan dan banyak, namun semua kosong di depan pemilih. Lihat mereka mengasongkan seperti kacang rebus sejak 2018, ada sembilan nama untuk capres dan cawapres, alias 18 nama orang, toh satupun tidak ada yang dilirik partai lain. menjadi ketua tim pemenangan saja tidak, selain hanya penggembira dan menemukan serta membesarkan masalah dengan hoax dan aneka narasi kehebohan dan viral.

Jakarta selama ini telah gagal, kosong kepemimpinan ala JK, aneka kekisruhan di depan mata. Mengatasi banjir diambil alih Menteri PUPR, kemiskinan diambil alih Mensos, eh mengaku gubernur rasa presiden. Mengaku orang Jawa seharus malu karena jelas sudah tidak memiliki nyali karena ketika orang bekerja diambil alih oleh orang lain, berarti orang itu dinilai sama sekali tidak berguna.

Ketika berlama-lama “sakit”. Tiba-tiba rumahnya diobok-obok oleh “atasan”nya. Habis sudah tidak lagi bisa ngeles. Memerintahkan mendata siapa pengemis itu, jelas arahnya akan mengatakan itu berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pembunuhan karakter sesama koleganya yang potensial menjadi rivalnya, seperti tudingan soal penduduk Jakarta banyak covid karena dari Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Waktunya adalah politikus pekerja, birokrat sukses dengan prestasi, bukan semata narasi dan sensasi. Wajar paanggung Anies roboh dan diambil alih Risma karena memang tipe pekerja. Jakarta sudah bosan dengan retorika semata, mereka paham dengan kesalahan mereka mmilih pemimpin besar omong, nol hasil itu. Risma adalah oase bagi Jakarta yang pernah merasakan dampak kinerja Jokowi-Ahok.

Risma tetap maju, biarkan saja semua menjalankan tupoksi mereka di dalam mereduksi pembangunan bangsa ini. Mereka sudah ada di pojokan dalam kelam kekalahan yang makin mendesak. Kaki-kaki mereka satu demi satu terpangkas, dan akan habis. Hanya menunggu waktu mereka tergulung oleh kebodohan mereka sendiri di dalam bermain. (Susy Haryawan)

Categorised in:

No comment for Risma Menggema, Anies Meringis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan