Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Edukasi » Sudah Ada Teknologi tapi PJJ Masih “Begitu-begitu Saja”? Lakukan 3 Hal Ini

Sudah Ada Teknologi tapi PJJ Masih “Begitu-begitu Saja”? Lakukan 3 Hal Ini

(162 Views) November 20, 2020 1:10 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Agaknya sudah 9 bulan kita akrab dengan Pembelajaran Jarak Jauh. Barangkali, sesekali guru dan siswa mencoba merenungi bagaimana suasana belajar di akhir bulan Februari 2020 lalu. Bulan di mana pembelajaran masih fokus digelar dengan saling bertatap muka.

Sayangnya, ketika kita mulai memasuki bulan Maret, April, hingga bulan-bulan berikutnya, aktivitas pembelajaran sehari-hari menghasilkan kesan yang buruk. Hal itu merupakan imbas dari adaptasi kita terhadap pandemi, juga keakraban kita dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Belum selesai di sana, 3-4 bulan setelah PJJ digelar, ternyata sistem pembelajaran yang melibatkan kecanggihan teknologi itu tidak begitu menyenangkan. Malahan, membosankan dan membuat jenuh.

Buktinya? Kita bisa bersandar kepada hasil survei UNICEF tentang pelaksanaan PJJ dan bagaimana perasaan siswa andai sekolah kembali dibuka.

Survei yang menampung lebih dari 4000 tanggapan di 34 provinsi tersebut berkesimpulan bahwa mayoritas (87%) siswa ingin kembali belajar tatap muka di sekolah. Alasan yang terang terlihat dari data adalah, para siswa kurang nyaman belajar di rumah, pun dengan keterbatasan akses PJJ.

Padahal sesungguhnya kita masih bicara tentang keterbatasan, kan? Bukan ketidakmampuan akses. Dengan demikian, masih ada peluang bagi aplikasi berbasis teknologi lainnya untuk menutup celah kesulitan akses PJJ, agar para siswa tetap mendapat pelayanan pendidikan.

Tapi, sampai hari ini, mengapa kok PJJ masih “begitu-begitu saja?”

Masih terdengar kata “lelah” dan “berat” dari bibir siswa yang selama ini menerima banyak tugas PJJ.

Masih terdengar kata “bosan” dan “jenuh” yang terucap oleh siswa karena sebagian gurunya hanya memindahkan materi ajar dari media cetak ke media digital. Pun dengan suara-suara gamang lainnya.

Dari sana, sepertinya perlu ada yang kita benahi, terutama dari sisi pendekatan gurunya. Setidaknya, ada 3 hal yang bisa dilakukan guru untuk membuat PJJ jauh lebih menyenangkan.

1) Kalau Siswa Bosan, Maka Maafkanlah
Secara umum, tiap-tiap kita pasti memiliki keterbatasan emosional dan keterbatasan fisik dalam melakukan aktivitas tertentu. Bosan tak bisa dipelihara, karena lama-lama menanam bosan, akan tumbuh perasaan jengkel.

Sebenarnya tiap orang pasti pernah bosan. Maka dari itu, saya terkesan dengan solusi mengatasi kebosanan PJJ yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd.

Dalam kelas online Innovation School Leaders and Teachers (ISLTF) tentang “Peran Kompetensi Pedagogi dalam Membentuk Generasi Zillenials Tangguh” yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu, sang Ketua Komisi Nasional UNESCO ini menerangkan bahwa, kalau siswa bosan, maka maafkanlah.

Terang saja, anak tak boleh terlalu lama di depan laptop, di depan televisi, maupun di depan handphone.

Mereka pasti ingin istirahat, bermain, bergerak, sehingga sebagai orang tua, kita biarkan saja anak “berkeliaran” di sekitar rumah terlebih dahulu. Dengan memberikan “kebebasan” anak untuk bergerak, sebenarnya orang tua dan guru telah menyilakan mereka untuk mengusir rasa bosan.

Masih dari Prof. Arief, beliau memberikan sebuah pernyataan, “Pernahkah orang yang sudah pernah naik haji merasa bosan untuk datang lagi? Tidak, kan?”

Dari sana, kita bisa memetik hikmah bahwa sering jalan-jalan alias sering-sering bergerak bisa menghapus kebosanan yang menempel di ubun-ubun.

2) Samakan Standardisasi Kesenangan Belajar Antara Guru, Siswa, dan Orang Tua
Barangkali ada beberapa orang tua yang menuntut agar anaknya dapat belajar secara sempurna, lalu menuntut kesempurnaan itu kepada gurunya. Agaknya, kesempurnaan yang diharapkan ini adalah mustahil, kan? Kita sedang duduk di era PJJ, juga tidak ada PJJ yang sempurna.

Maka, dari sana, orang tua tadi yang seharusnya melihat kesempurnaan itu dari dirinya. Sudah sempurnakah pendampingan? Sudah sempurnakah pelayanan dan bimbingan belajar dari rumah? Serta beberapa poin lainnya.

Alhasil, titik simpul yang bisa orang tua sandarkan adalah, “terimalah anak apa adanya”.

Agar PJJ bisa mendekati kata kesempurnaan, perlu digaungkan kolaborasi dan keterlibatan antara guru, siswa, juga orang tua. Perlu disamakan standardisasi kesenangan belajar menurut ketiga pelaku pendidikan ini.

Salah satu bahan perbandingan, kita bisa menilik hasil survei Tanoto Foundation terkait PJJ yang telah berjalan 8 bulan. Survei yang melibatkan 332 kepala sekolah, 1.368 guru, 2.218 siswa, dan 1.712 orang tua ini telah menemukan 3 masalah utama orang tua saat belajar di rumah.

Pertama, orang tua cenderung jenuh dan kurang sabar mendampingi anak. Kedua, orang tua kesulitan menjelaskan materi pelajaran kepada anak. Dan ketiga, orang tua kesulitan memahami materi pelajaran anak.

Atas ketiga masalah tersebut, saya kira faktor terbesar lahirnya masalah berawal dari standardisasi kesenangan belajar yang tidak sama antara guru, orang tua, dan siswa.

Guru mungkin ingin cepat mengajar karena sudah cukup lelah membuat video pembelajaran, hingga akhirnya cenderung hanya berkirim link materi ajar.

Orang tua mungkin ingin agar anaknya cepat paham, sehingga terkesan memaksakan anak untuk berdiam di ruang belajar demi menyelesaikan tugas secepatnya. Padahal, belum tentu orang tua tadi mengerti.

Sedangkan siswa? Siswa mungkin sedang butuh istirahat, olahraga, atau jalan-jalan di sekitar rumah. Hingga akhirnya mereka memilih untuk menumpuk tugas.

Alhasil, kesenangan belajar antara ketiga pelaku pendidikan ini tidak sama. lagi-lagi kita tekankan bahwa kolaborasi, komunikasi, serta keterlibatan antara kegitanya sangat-sangat penting.

3) Guru Perlu Melakukan Peralihan Peran Mengajar
Sejatinya PJJ bukanlah sistem pembelajaran pengganti perpustakaan, pengganti kelas tatap muka secara utuh, hingga berbagai komunitas belajar lainnya yang selama ini bisa memuaskan relung pikir.

PJJ hanyalah opsi agar siswa tetap mendapatkan pengalaman belajar, sehingga berlama-lama di depan laptop, atau bahkan di depan android demi belajar bukanlah pilihan yang bijak. Guru tak bisa menyamakan cara mengajar tatap muka dengan daring.

Maka dari itu, guru tak perlu terlalu banyak mengambil peran mengajar. Dalam PJJ, terutama sistem daring, ada peralihan gaya mengajar sekaligus peran seorang guru.

Barangkali saat pembelajaran tatap muka peran guru cukup banyak di bidang transfer ilmu, tapi ketika PJJ, guru adalah tutor, instruktur, fasilitator, mediator, serta motivator siswa dalam berdiskusi dan memecahkan suatu permasalahan.

Pada dasarnya, PJJ telah memberikan kendali belajar lebih banyak kepada siswa.

Sederhananya, siswa akan belajar dan pelajarannya bisa masuk ke hati kalau siswa tadi sedang butuh. Jadi, sebagai fasilitator sekaligus motivator perlu meningkatkan kreasi dan inovasi dalam menyampaikan materi ajar.

Kegiatan guru mengajar dari Google Classroom, Zoom Meeting, Microsoft Teams, hingga membuat video pembelajaran itu adalah seperangkat kreasi dan inovasi.

Tetapi, mohon maaf, sebagus apapun aplikasi maupun media ajar, kalau tidak disampaikan dengan menarik, maka guru akan lebih banyak dapat lelahnya saja. Guru capek-capek menyiapkan video ajar, menyetel ruang virtual, tapi penyampaian materi belum didasari atas kebutuhan siswa.

Maka dari itu, selain perlu beralih peran dan menyesuaikan dengan teknologi yang dapat mendukung PJJ, guru juga perlu terus berkreasi dalam menyampaikan materi ajar secara virtual. Bekreasi itu sebenarnya melelahkan, belajar juga demikian. Jadi pupuk terus semangat mengajar.

Ozy V Andalika

Categorised in:

No comment for Sudah Ada Teknologi tapi PJJ Masih “Begitu-begitu Saja”? Lakukan 3 Hal Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan