Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » Tagar Tangkap Anies, Risma, Demokrat dan PKS

Tagar Tangkap Anies, Risma, Demokrat dan PKS

(285 Views) Januari 25, 2021 7:01 pm | Published by | No comment
iklan

AdaNews.id-Usai Risma dilantik menjadi menteri, perpolitikan nasioal kembali memanas. Semua sudah berhitung mengenai 24 dan sasaran antara pilkada DKI dengan tarik ulur mau tetap 22 atau sekalian 24. Lucu yang ada, yang dulu ngotot pilkada 20 ditunda malah kini balik lebih ngeyel untuk pilkada 22 bukan sama dengan pilpres.

Paling aneh dan lucu ya sembuhnya Anies dari covid begitu Risma masuk Jakarta dan mengobok-obok wilayahnya. Ini tentu pesan sponsor, pihak gede di balik Anies. Panggung yang sudah ada jangan sampai terenggut, kan hanya satu-satunya peluang. Fatalnya, pesaing itu sangat mumpuni dan mereka paham, bukan sepadan dengan Anies.

Upaya pengulangan politik cemar asal tenar masih saja dipakai. Menyasar dan melawan pemerintah pusat atau Jokowi lagi. Hal usang yang terus diulang-ulang, basi dan tentu tidak laku lagi. Ingat sudah tidak lagi punya kaki sekokoh HTI-FPI. Menyindir Risma yang katanya tidak izin itu hanya merasa malu karena tidak bekerja.

Gelandangan di depan mata merasa malu, karena abai kinerja. Riza sampai mengaku tidak pernah melihat. Speaker aki-aki alam Ridwan pun menjadi amnesia, katanya tidak pernah ada gelandangan di Jakarta. Sudahlah menutupi kotoran ya hanya bisa dengan kebohongan. Naif.

Sasaran dan serangan Risma makin masif, eh Anies hanya pamer program copasan. Mengecat kolong jalan layang dan genteng warga itu bukan fenomenal. Hanya sebuah sensasi yang maaf murahan, tetapi mahal harganya. Tanpa ada efek manfaat, selain estetis semata.

PKS.

Partai miskin kader handal ini paling mungkin hanya mengusung Anies. Mereka memang punya banyak kader yang terkenal, bolak-balik masuk perbincangan media, tetapi maaf, hanya menjadi pemain komedi dan lawakan politik. Tidak pernah masuk jajaran elit survey politik. Mereka ini paham, tidak cukup punya modal untuk bisa bersaing. Menjaga Anies menjadi satu-satunya cara.

Serangan kepada Risma demikian masif dan tak henti-henti, apalagi Hidayat Nur Wahid, pimpinan MPR bertahun-tahun tanpa hasil ini selalu saja berteriak, tetapi lagi-lagi masyarakat ogah memilih.

Partai militan ke dalam, namun keluar melempem ini susah bicara banyak. Memang mereka hanya memiliki satu agenda, dan itu pun sudah ada di depan mata untuk terlibas oleh Pancasila. Paling banter sebentar lagi mereka akan berkamuflase dengan baju baru. Tetapi perilaku tetap bau seperti dulu.

Mengapa Risma?

Representasi perempuan pekerja, partai gede di Indonesia, cukup populer, masuk bursa dalam survey-survey, dan jenjang karirnya juga menonjol. Tidak semata karbitan dan karena koneksi bisa menasional.

Kinerjanya bisa menjadi iklan yang tidak pernah bisa Anies, PKS, dan belakangan Demokrat lakukan. Mereka malah cenderung blunder ketika menyasar pada kesayangan media dan publik. Sama juga dengan memusuhi Jokowi selama ini. perbuatan sia-sia.

Mereduksi, bahkan menegasikan Risma sama juga dengan membunuh karakter PDI-P. Penangkapan kadernya menjelang pilkada serentak telah gagal. Eh pengganti dari partai yang sama, berkinerja pula, hantaman yang bagi mereka telak, padahal sia-sia.

Demokrat

Jelas agenda mereka hanya satu, AHY presiden atau wapres minimal. Tanpa mau kerja keras, hanya menghantam Jokowi dan kini Risma apa gunanya. Ada dugaan serangan kepada PDI-P secara masif itu sudah direncanakan. Sudah dirancang untuk dilakukan secara masif. Jika demikian, apa untungnya bagi bangsa dan negara coba?

Permainan politik merusak untuk membangun kelompok sendiri. Hal yang model kuno, sayang nama besar Demokrat hanya tinggal nama, tanpa ada jejak kebesaran dari perjuangan dan juga hasil karya. Miris.

Tiba-tiba dunia media sosial malah menggema #tangkapanies dan #aniestakbisa kerja. Lha salah sendiri, kapasitas Anies ya memang hanya segitu. Memaksanya bekerja seperti Risma, Ahok, atau Jokowi ya sama juga mengharapkan cebong bisa terbang. Kapasitasnya tidak cukup. Maka, demi menjual citra ia berlagak banyak.

Sesederhana itu, kebetulan ia dijadikan tumpuan banyak pihak. Demokrat pun sangat mungkin bekerja sama asal AHY masuk dalam salah satu slot antara presiden atau wakil. Lagi-lagi itu hanya besar nama tanpa bukti nyata untuk apapun.

Pengalaman bermain antagonis dan bahkan pembangkangan sipil di Jakarta, jangan harap itu adalah hasil gilang gemilang. Tiang gantungan iya, jika pilkada DKI 24 jelas sudah tidak punya harapan bagi Anies, namun jika 22 masih ada celah, kecuali belum kena sidik Bareskrim, Kejaksaan, atau KPK.

Miris ketika semua berfokus pada politik. Padahal membangun negeri tidak cukup hanya politik. Asih banyak ladang lain untuk membantu membangun bangsa dan negara. Melihat perilaku sebagian elit negeri ini, cenderung hanya mencari dan mendapatkan kekuasaan. Rakyat dan pemilih hanya menjadi alat dan sarana untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sayang model demikian malah dominan di kancah perpolitikan negeri ini. (Susy Haryawan)

Categorised in:

No comment for Tagar Tangkap Anies, Risma, Demokrat dan PKS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan