Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Uncategorized » Wabah Baliho, Teror Sampah Visual di Atas Derita Rakyat

Wabah Baliho, Teror Sampah Visual di Atas Derita Rakyat

(178 Views) Agustus 15, 2021 9:46 am | Published by | No comment
iklan

Tengoklah baliho-baliho di tepi jalan itu. Mereka tampak sangat gagah lantaran didirikan di atas penderitaan rakyat. Kalau tidak karena amplop, manusia mana lagi yang sudi memilih mereka?

AJANG Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 memang masih jauh. Namun, para bakal kandidat presiden sudah mulai bersiap-siap dengan amunisinya. Mereka tengah bersaing untuk mencuri start, tiga tahun sebelum lonceng kampanye dibunyikan.

Pada saat pemerintah yang kini sedang gencar-gencarnya meminta warga agar selalu menerapkan hidup sehat, justru sistem politik dan para politisi lah yang belakangan ini sedang tidak sehat.

Masih tingginya penularan COVID-19 di tengah masyarakat, nyatanya tak sedikit pun mampu meredam hasrat dan ambisi mereka yang kelewat barbar untuk terus menebar “teror” lewat baliho kampanye. Sejumlah baliho yang memasang wajah-wajah para politisi yang menyeringai di tengah penderitaan warga, mulai marak terlihat di pinggir-pinggir jalan.

Meski tidak menyebutkan agenda, orang gila pun paham bahwa baliho-baliho itu dimaksudkan untuk mempersipakan diri mereka menuju Pilpres 2024 mendatang. Bukan untuk cari jodoh, apalagi wangsit! Mereka terlihat sangat bahagia dengan senyuman khas elite politik yang sarat akan sandiwara. Sementara, rakyatnya menangis akibat pendemi yang seolah tidak berkesudahan.

Demi memuaskan hasrat terpendamnya, mereka terkesan kompak mengerdilkan nilai-nilai kemanusiaan. Tatkala rakyat menderita dan membutuhkan bantuan, sejumlah elite partai terus melancarkan serangan guna memuluskan agendanya.

Efektivitas Baliho Kampanye
Kampanye melalui baliho bisa dikatakan sudah amat usang pada era serba digital. Saya meragukan efektivitas pemasangan baliho yang dilakukan oleh para politisi. Apakah Anda akan menetapkan pilihan pada seorang politikus hanya menurut kualitas dan kuantitas baliho yang bisa Anda jumpai di pinggir jalan?

Saya yakin, Anda akan menjawab tidak atau bahkan justru merasa risih akibat baliho yang memang tidak sedap dilihat dan menyalahi nalar.

Sebagai konstituen pemilu, tak pernah terbersit di pikiran saya untuk memilih sosok calon presiden hanya didasarkan pada baliho yang saya lihat di tepi jalan. Bagi saya, program kerja adalah faktor utama yang akan saya jadikan sebagai acuan saat berada di dalam bilik suara. Artinya, penggunaan baliho menjadi sia-sia jika tak diiringi oleh kerja nyata, terlebih di tengah pandemi. Alih-alih apresiasi dan simpati, baliho itu justru akan berakhir jadi materi humor (meme) warganet di media sosial. Lantas, ditertewakan.

Kritik netizen melalui meme baliho elite politik adalah manifestasi sikap pemilih. Masyarakat hari ini sudah dapat berpikir kritis. Mereka tidak akan mudah percaya hanya dengan sampah visual yang berisi wajah bakal calon presiden (capres). Apalagi, dalam Pilpres 2024 mendatang sebagian besar pemilih akan dihiasi oleh kalangan muda (pasca-milenial). Secara tak langsung, mereka akan berpikir jauh lebih rasional serta lebih kritis terhadap sosok yang akan maju sebagai capres.

Saya pikir, pemasangan baliho menjadi pertanda bahwa mereka tak mempunyai kepercayaan diri. Para politikus tersebut merasa elektabilitasnya tak cukup tinggi sehingga mereka harus menempuh cara yang kurang etis di tengah pandemi. Meski demikian, sejatinya pemasangan baliho politik tak banyak mendongkrak elektabilitas para kandidat capres 2024, seperti yang diungkapkan oleh Direktur Eksekutif lembaga survei politik Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya.

“Jadi bisa diasumsikan bahwa banyaknya jumlah atribut dalam bentuk baliho dan juga billboard seperti yang dibicarakan bahkan menjadi viral, ternyata tidak berkorelasi linier terhadap tingkat elektabilitas,” ujarnya (12/08/21).

Efektivitas baliho politik, kata Yunarto, tidak lebih dari 60 persen karena begitu besarnya wilayah Nusantara. Baliho tak mampu menjangkau hingga ke pelosok. Bahkan, ia juga menyebut dengan adanya baliho politik, justru akan berpotensi jadi bumerang lantaran warga merasa jengkel atas manuver politik tokoh-tokoh partai yang terlalu masif di tengah pandemi.

Kesimpulan yang identik juga ditemukan dalam hasil sebuah studi yang dilakukan ilmuwan politik dari Yale University, AS, Alexander Coppock. Terlepas dari konten, konteks, atau audiens, iklan politik tidak cukup memengaruhi preferensi pemilih.

Studi yang diterbitkan di jurnal Science Advances itu mengukur efek persuasif dari 49 iklan kampanye Pilpres AS 2016 pada sampel yang diwakili 34.000 orang secara nasional, melalui serangkaian 59 eksperimen acak.

“Ada gagasan bahwa iklan yang sangat bagus, atau yang disampaikan dalam konteks yang tepat terhadap audiens yang ditargetkan, dapat memengaruhi pemilih, tetapi kami menemukan bahwa iklan politik secara konsisten memiliki efek persuasif yang sangat kecil dalam berbagai karakteristik,” kata Coppock.

Rakyat Butuh Sembako
Menurut kabar dari detikcom, tarif yang dipatok untuk memasang baliho di Kota Bandung sangat bervariasi. Tergantung pada ukuran, durasi waktu, dan lokasi di mana baliho dipajang. Harga yang dipatok untuk pemasangan baliho berukuran 4×8 meter di tempat-tempat strategis, berkisar antara Rp15 juta sampai Rp20 juta tiap bulan. Ingat, per bulan!

Bayangkan, hanya dalam kurun waktu setahun saja ongkosnya bisa mencapai Rp180 juta hingga Rp240 juta. Nominal tarif yang sangat fantastis hanya untuk sekedar memasang satu baliho!

Terlebih lagi, tak cukup hanya satu-dua baliho yang mereka pasang di satu kota. Ada puluhan yang mereka pasang. Lalu, berapa jumlah baliho yang mereka tebar di seluruh penjuru negeri? Ratusan!

Misalkan harga beras kualitas medium Rp10.000 per kilo, ada minimal 1,5 ton beras yang bisa dibagikan kepada warga yang kini tengah memerlukan bantuan. Ingat, per bulan!

Sejatinya mereka tahu betul jika masih banyak warga yang sedang susah dan butuh bantuan. Hanya saja, “sense of crisis” dan empati mereka telah gugur terlebih dahulu di medan perpolitikan. Alangkah mulianya andai mereka sudi sedikit menurunkan birahi politiknya untuk sejenak membantu setiap warga masyarakat yang terdampak pandemi.

Ketimbang menebar baliho, sebaiknya mereka berbagi sembako atau bantuan tunai kepada orang-orang yang tengah mengalami kesulitan ekonomi. Agar memiliki nilai manfaat bagi warga masyarakat, saya menyarankan kepada seluruh elite politik untuk membagikan semua balihonya kepada para pedagang kaki lama sebagai alas duduk.

Sebab, di sana lah tempat yang pantas untuk memajang potret wajah-wajah elite politik–yang menyeringai di atas penderitaan 270 juta rakyat Indonesia. Salam. (Elang Salamina)

Categorised in:

No comment for Wabah Baliho, Teror Sampah Visual di Atas Derita Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan