Menu Click to open Menus
TRENDING
iklan
Home » Ada Politik » Xi Jinping, Shang-Chi, dan Ramalan Soeharto 25 Tahun Lalu

Xi Jinping, Shang-Chi, dan Ramalan Soeharto 25 Tahun Lalu

(200 Views) September 28, 2021 11:15 am | Published by | No comment
iklan

Adanews-Dalam beberapa dekade terakhir, China telah menikmati kemakmuran dengan pertumbuhan ekonominya yang tinggi. Namun, hal ini tidak serta-merta membuatnya menjadi sebuah negara kapitalisme barat.

Khususnya pada saat ekonomi mulai melambat, pemerintah China merasa perlu untuk melakukan sesuatu. Kembali kepada hakekatnya, itulah motto China.

Menyeimbangkan kesenjangan, membangkitkan nasionalisme, dan menggempur serangan budaya asing. Tiga hal yang menjadi fokus pemerintahan Xi Jinping

Pengaruh budaya asing dianggap sebagai ancaman. Propaganda terselubung melalui media sosial dianggap sebagai bahaya laten yang dapat merusak moral bangsa. Beberapa langkah ekstrim kemudian diambil pemerintah China. Di antaranya adalah melarang les privat di luar lingkup institusi pendidikan. Pemerintah China merasa perlu menetapkan sistem sertifikasi guru. Begitu pula dengan pembatasan jam main gim online. Remaja di bawah usia 18 tahun hanya boleh bermain tiga jam dalam sepekan di akhir pekan. 

Sampai di sini, aturan aneh ini sudah mampu membuat darah mendidih. Ini belum termasuk aturan ketat lainnya di dunia hiburan.

Akun K-Pop
Wei-bo, platform media sosial terbesar di China telah membekukan lebih dari 20 akun fandom. Tiga teratas yang terkena imbas adalah BTS, Blackpink, dan Exo.

Menurut otoritas China, tingkat fanatisme generasi muda China sudah sampai tahap “mengerikan.” Perilaku mereka sudah dianggap irasional. Saling mengejek dan menyebarkan gosip di media sosial. Menimbulkan kebencian yang seharusnya tidak penting. Untuk itu, maka peringkat ketenaran juga menjadi hal yang dilarang. Pemerintah China tetap menganggap azas kesetaraan di segala lini. Termasuk bagi para pelaku industri hiburan.

Mempromosi Trauma
Vicki Zhao salah satu yang akun medsosnya “hilang” selama 18 hari. Seluruh video terkait dirinya juga terblokir. Tidak ada penjelasan resmi, namun publik bisa menduga ada beberapa hal yang membuatnya “dilenyapkan.” Salah satunya terkait postingannya yang mengenakan baju bermotif bendera militer Jepang. Sebagaimana diketahui, bangsa Tionghoa pernah merasakan kepedihan mendalam akibat kebrutalan tentara Jepang di masa lalu.

Tak hanya Vicki, artis muda Zhang Zehan juga kena imbas. Fotonya di kuil Yasukuni pada 2018 memicu kemarahan warganet. Sebabnya, kuil tersebut adalah tempat penghormatan kepada para almarhum tentara Jepang Perang Dunia II.

Dampak yang Zhang dapatkan cukup signifikan. Lebih dari 20 merek dagang memutuskan kontrak kerja dengannya. Sejumlah proyek film yang ia bintangi juga terancam dibatalkan.

Pemerataan Kemakmuran
Tercatat ada dua artis yang didenda akibat penggelapan pajak. Mereka adalah Fan Bing-bing dan Zheng Shuang. Bukan hanya denda, tapi juga harus menghadapi regulasi ketat terkait honor.

Bayaran Zheng Shuang dianggap tidak rasional. Ia bernilai 24 juta dollar Amerika untuk sebuah serial drama. Sistem Pemerataan Kemakmuran komunis menganggapnya terlalu tinggi. Alasannya sederhana, masih ada 600 juta warga China yang hanya berpenghasilan 140 USD per bulan.

Bagi pemerintah, seorang pekerja hiburan seharusnya mengedapankan nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air. Gaya hidup hedon dari para selebriti dianggap sebagai petanda rusaknya moral. Tidak sesuai dengan ideologi dan budaya Tiongkok.

Pemujaan Berlebihan
Xi Jinping telah menjadi sosok sentral dalam penentuan masa depan China. Banyak yang menduga, ia tidak senang jika ada sosok yang terlalu menonjol. Lihat saja, Jack Ma diketahui “hilang” karena dianggap sebagai “musuh bersama,” setelah mengkritik sistem keuangan China. Bukan hanya soal kritik. Jack Ma telah berubah menjadi idola masyarakat dunia. Ia dianggap mewakili kaum papa yang berhasil bangkit dari keterpurukan.

Penampilannya di hadapan publik, bukan lagi sebagai pebisnis. Ia telah membentuk dirinya sebagai figur serba bisa. Bermain film dan juga menyanyi. Bagi pemerintah China, narsisme ala Jack Ma ini berbahaya. Semacam jargon kapitalisme, “uang bisa membeli segalanya.”

Tidak Setia
Aktor pemeran Shang-Chi, Simu Liu mendapat banyak gunjingan. Pernyataannya kepada salah satu media di Canada pada 2017 ditenggarai sebagai salah satu penyebab film Shang-Chi dilarang tayang di China. Ia mengungkapkan masa kecilnya yang dikelilingi oleh warga yang kelaparan di China. Ia juga menyebut jika Canada adalah surga impian bagi orang China untuk berimigrasi.

Bukan hanya Simu Liu. Film Marvel The Eternals, karya sutradara berdarah Tionghoa lainnya, Chloe Zhao juga terancam diboikot. Perkaranya sama, Chloe juga sempat menyinggung perasaan negeri leluhurnya dengan pernyataan kontroversial.

Pengkhianat Bangsa
Kesetiaan bagi Pemimpin Xi bisa mencakup hal yang lebih luas lagi. Nasionalisme konsepnya jelas. Cukup menganggap China sebagai negeri yang lebih baik dari negara mana pun di dunia ini. Sikap yang berbeda dianggap sebagai aksi pengkhianatan. Termasuk deretan artis yang mengubah kewarganegaraanya. Jet Li adalah aktor lawas yang barusan mendapat peringatan tentang statusnya. Hal ini berlangsung tidak lama setelah Vicki Zhao “menghilang.”

Kabar tersebut mencuat setelah badan otoritas China mengeluarkan kebijakan terbaru mengenai eksposur artis warga negara asing di China. Sutradara Zhou Guogang bahkan memperingatkan Li untuk segera melarikan diri. Tentu saja berlebihan. Tapi, memang pemerintah China tidak berlebihan dalam menilai kesetiaan sosok pesohor. Diketahui bahwa Jet Li telah mengubah diri menjadi warga negara Singapura sejak 2009.

Senada dengan Jet Li, para artis yang dianggap berkhianat juga akan segera “kena batunya.”  Mereka antara lain adalah Nicholas Tse (Canada), Zhang Tielin (Inggris), Wang Leehom (Amerika), dan artis pemeran Mulan, Liu Yifei (Amerika).

Bagi China, mengubah kewarganegaraan tiada bedanya mencoreng wajah pemerintah. Seolah-olah negara lain lebih baik dari negeri leluhur. Kendati, bisa disebutkan bahwa pilihan ini adalah masalah personal.  

Sekejam itukah China?
Melihat dari dua sisi yang berbeda, pemerintah China juga ada benarnya. Dunia hiburan telah banyak berubah dengan kehadiran media sosial. Dampak yang dimunculkan bisa menimbulkan kengerian yang tidak bisa diperhitungkan.

Budaya Toksik menjadi alasan utama dari pemerintah China. Mereka mendefenisikan pamer kemewahan sebagai aksi yang tidak bermoral. Begitu pula dengan pemujaan hingga pengkultusan figur. Pun halnya dengan aksi yang tidak rasional, seperti konten menantang maut atau prank yang berlebihan.

Bagi pemerintah China, anak muda seharusnya mengisi hidupnya dengan hal positif, ketimbang menjadi penyokong gerakan popularitas sesaat. Rasa cinta kepada negara dan bangsa juga menjadi perhatian. Pengawasan ketat terhadap pendidikan, jam main gim online, hingga ujaran di medsos pun diatur undang-undang. 

Tentu langkah yang diambil tergolong ekstrim. Banyak yang menuduh, aksi tersebut sebagai pembatasan hak azasi. Tapi, Cina tidak peduli. Mereka memiliki kekuatan.

Ramalan Soeharto
Menarik melihat bagaimana sebuah video yang sempat viral di jagad maya. Ia disebutkan sebagai ramalan Soeharto terhadap masa depan Indonesia. Video tersebut direkam pada tahun 1995, dan berisikan prediksi terhadap masa depan Indonesia 25 tahun lagi, yang berarti 2020 lalu.

Berikut potongan kutipannya :

Anak-anak sekarang harus disiapkan benar-benar untuk mencintai tanah air, […] maka daripada itu, remaja yang akan hidup di tahun 2020 akan menjadi benteng untuk mempertahanken daripada kelangsungan hidup negara dan bangsa.”

“[…] Sebab kalau daripada para pemuda nanti kesengsem kepada produk luar negeri, hancur daripada bangsanya… […]”

Nah, menarik disimak. Terrnyata era globalisasi tanpa batas telah berada pada pemikiran Soeharto sejak 25 tahun lalu. Saat itu, internet belum ada, Soeharto pun belum mengenal medsos dan sejenisnya.

Pada akhirnya nasib sebuah bangsa sangat tergantung dari keputusan bangsa itu sendiri. China mungkin berlebihan. Tapi, jika tujuannya sama dengan apa yang disampaikan oleh Soeharto 25 tahun lalu, maka ada benarnya juga sih.

Tiada lain agar bangsa ini tidak hancur.

Sebagaimana diri kita dalam mengurusi keluarga. Benar atau tidaknya, biarlah itu dinilai oleh keluarga sendiri. (***).

Referensi : diambil dari beberapa sumber.

Categorised in:

No comment for Xi Jinping, Shang-Chi, dan Ramalan Soeharto 25 Tahun Lalu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

iklan iklan