Apa Kabar Revolusi Akhlak?

0 0
Read Time:4 Minute, 52 Second

AdaNews.id-Ketika narasi revolusi akhlak mulai diperkenalkan ke publik oleh Rizieq Shihab, saya jadi bertanya-tanya apakah benar revolusi yang dimaksud mereka itu akhlak?

Tentunya kita semua ingat kata “revolusi” yang akan dilakukan oleh Rizieq ini awalnya tak menyertakan kata “akhlak” dibelakangnya.

Wacana revolusi minus kata akhlak ini pertama kali muncul saat FPI dan organisasi afiliasinya melakukan aksi unjuk rasa penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja 13 Oktober 2020 lalu di seputaran Monas Jakarta.

“Imam besar Habib Rizieq Syihab akan segera pulang ke Indonesia untuk memimpin revolusi,” ujar Ketua Umum FPI Ahmad Shabri Lubis.

Narasi “revolusi” juga tertuang dalam siaran pers FPI soal kepulangan Rizieq Shihab dan revolusi. Kata penutup rilis tersebut menuliskan

“Insya Allah, IB-HRS akan segera pulang ke Indonesia utk memimpin REVOLUSI SELAMATKAN NKRI. ALLAHU AKBAR.”

Ucapan Shabri dan Pers Rilis FPI ini mungkin semacam “test the water”, menakar reaksi masyarakat dan pemerintah terkait wacana revolusi ini.

Dan ternyata masyarakat bereaksi dingin cenderung menolak kecuali kelompoknya yang terlihat bersemangat.

Sementara di sisi lain pemerintah bereaksi biasa saja cenderung keras dengan menyerahkan penafsirannya kepada aparat hukum yang berwenang.

Hal itu ditunjukan oleh pihak Istana, melalui tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden Donny Adian Gahral yang menyatakan revolusi ini bisa saja dikategorikan sebagai perbuatan makar.

“Jadi kalau menggaungkan revolusi itu hanya dengan makar, karena pemerintahan yang konstitusional hanya berganti dengan mekanisme yang direstui oleh konstitusi yaitu lewat pemilihan umum,” ujar Donny, Rabu (14/10/20). Seperti yang dilansir Suara.com.

Pihak Kepolisian sendiri memilih untuk mempelajari terlebih dahulu langkah-langkah Rizieq dan FPI dalam memanifestasikan kata “revolusi” itu. Jika memang terindikasi melanggar hukum maka mereka baru bisa bertindak.

Kemudian isu revolusi ini mulai memunculkan polemik di tengah masyarakat, pemerintah dan aparaturnya sikapnya terus mengeras dan publik pun banyak yang mencibir.

Hingga 2 hari kemudian pihak Rizieq Shihab dan FPI merilis narasi bahwa revolusi yang dimaksud itu bukanlah revolusi fisik yang berpotensi disebut makar, tapi “Revolusi Akhlak”.

“Terkait Revolusi pada 13 Oktober 2020 yang disampaikan Ketum FPI Sobri Lubis, adalah revolusi akhlak atau revolusi moral, nyaris sama dengan revolusi mental ala Jokowi. Hanya beda arah sangat jauh sekali terkait pemahaman subtansinya,” kata Juru Bicara FPI Damai Hari Lubis, Kamis (15/10/20). Seperti dilansir Tirto.id.

Pernyataan ini tentu saja membuat tensi ketegangan menjadi sedikit menurun, karena sudah jelas arah “revolusi” yang dimaksud bukan tentang revolusi fisik yang berpotensi menimbulkan masalah bukan hanya bagi FPI dan Rizieq tapi juga seluruh masyarakat Indonesia

Meskipun tetap saja istilah revolusi akhlak ala Rizieq Shihab ini menimbulkan kontroversi, setiba di Tanah Air Rizieq menjelaskan mengapa harus kata akhlak yang digunakan dalam mengiringi kata revolusi.

Ia menyatakan bahwa kata akhlak ini mengacu pada Nabi Muhammad SAW yang diturunkan ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Jadi jika disandingkan dengan kata revolusi yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki 2 arti, pertama perubahan ketatanegaraan yang dilakukan dengan kekerasan, dan kedua, perubahan mendasar dalam suatu bidang, mungkin ini lah yang dimaksud Rizieq.

Artinya Rizieq Shihab dan FPI akan mengusung narasi perubahan mendasar akhlak manusia Indonesia dari yang buruk menjadi baik sesuai syariat Islam.

“Bicara tentang revolusi akhlak berarti bicara tentang suatu revolusi, yang berdiri tegak di atas Alquran dan sunnah nabi kita,” ujar Rizieq.

Dan karena ini revolusi yang bersifat mendasar berarti akan bersifat ekstrem, perubahannya berbalik 180 derajat. Tak ada yang salah sih sebenarnya, malah keren banget, asal ini bukan hanya jargon yang dipergunakan menyerang pihak lain dan menepuk dada sendiri karena merasa paling berakhlak baik.

Pertanyaannya kemudian jika akhlak yang diusung ini mengacu pada akhlak Nabi Muhammad SAW, apakah akhlak Rasulallah sudah dimiliki oleh sang empunya pengusung revolusi akhlak tersebut?

Pada dasarnya, dalam sebuah riwayat Rasulallah menyampaikan

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”

Akhlak mulia yang dicontohkan Rasulallah bukan hanya sekedar kata-kata tapi semua perilaku dan perbuatan dalam kehidupan beliau mencerminkan akhlak mulia itu sendiri.

Aisyah RA Istri Rasulallah dalam suatu riwayat bahkan menyebutkan “Akhlak Rasulallah SAW adalah Al Quran”

Akhlak menjadi cermin utama keimanan seseorang. Akhlak yang baik tercermin dalam perilaku yang baik, tutur kata yang santun, selalu menjaga hubungan yang baik dengan siapapun, dan berusaha berbuat kebaikan dalam hidupnya

Jika seorang yang mengaku muslim tapi masih gampang menghina orang lain, merendahkan pihak yang tak sepemahaman dengannya, bertutur kata kasar, mengolok-olok, mendendam, menebar kebencian, dan memiliki niat mengadu domba maka sesungguhnya belum sempurna akhlak dan keimanannya.

Dan kita tak selayaknya menjadikan sebagai acuan keteladanan dalam berakhlak meskipun secara sosial ia memiliki gelar keagamaan seperti Kyai, Ustadz atau Habib sekalipun.

Begitu banyak riwayat Rasulallah yang menunjukan kemulian akhlak beliau, salah satunya saat Baginda Rasulallah tiba di Thaif dan mengajak penduduknya untuk memeluk Islam.

Bukan sambutan baik yang ia dapatkan, namun hardikan bahkan lemparan batu menghujani tubuh beliau hingga darah segar bercucuran dari wajahnya.

Malaikat Jibril yang melihat kejadian tersebut merasa trenyuh dan menawarkan kepada nabi untuk membalasnya dengan cara menghancurkan sama sekali kota Thaif.

Namun, dengan lembut Muhammad SAW malah mendoakan itu dan mendoakan mereka yang telah mencelakainya.

“Ya, Allah berikanlah petunjuk pada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahuinya.”

Begitu mulia akhlak Rasulallah, hal itu mengajarkan kepada kita bahwa dakwah yang disampaikan itu harus santun, ramah, tanpa dendam apalagi kebencian.

Jadi jika benar, revolusi akhlak yang di dengung-dengungkan oleh Rizieq Shihab dan kelompoknya memang mengacu pada akhlak Rasulullah, tak akan keluar kalimat-kalimat yang mengesampingkan kesantunan.

Jika benar revolusi akhlak itu dengan niatan baik untuk mengubah perilaku maksiat dan ketidakadilan kenapa tak mulai mencontohkan dari diri sendiri untuk berlaku serupa.

Alih-alih berlaku seenaknya, merasa ingin menang sendiri dengan menafikan berbagai aturan yang sudah ditetapkan.

Jika tindakan-tindakan tak pantas itu terus dilakukan bukan keberhasilan yang akan di dapatkan oleh mereka, bisa jadi akan membuat Rizieq Shihab akan makin dimusuhi dan revolusi akhlak yang diusungnya akan dianggap sepi oleh publik untuk kemudian akan terkulai hanya terbatas pada jargon belaka. (Penulis Ferr W, salah seorang analyst di sebuah lembaga negara).

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: