Ridwan kamil Menggali kuburnya Sendiri

0 0
Read Time:3 Minute, 35 Second

AdaNews.id-Kala kepolisian mengatakan akan memeriksa kerumunan di Mega Mendung, Ridwan Kamil mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab atas itu semua. Ia juga memohon maaf kepada masyarakat jika telah mengganggu ketertiban dan menjadi cemas atas itu. Keren sebagai pemimpin bersikap dengan gagah dan ksatria.

Eh sebulan berjalan koq sudah berbeda 180 derajat perbedaan sikapnya, kini malah menuding dan menyeret Mahfud MD sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Sikap inilah yang layak dilihat dan dicermati lebih dalam lagi. Mengapa demikian?

Susah melihat ini sebagai sebuah kesalahan komunikasi semata. Ini jelas bermuatan politik yang amat lekat. Siapa yang ia sasar? Mahfud MD adalah kompetitor potensial untuk 2024. Semua paham mereka berdua ada dalam jajaran survey dengan suara yang tidak jauh berbeda. Dengan mendepak rival yang masih relatif sama tentu lebih memberikan posisi aman, dari pada mencoba mengusik papan atas.

Siapa kira-kira di balik itu semua? Perubahan drastis. Bulan kemarin itu adalah suara RK yang asli. Kini adalah “pesanan” politik yang ada di belakangnya. Penasihat atau konsultan politiknya atau partai yang sedang mengupayakan memberdayakannya untuk 2024. Polesan yang malah menjadikannya bopeng bukan malah mentereng.

Ia awalnya akan datang kepada siapapun dengan kemasan agamis, menjalin silaturahmi. Tiba-tiba ciut nyali karena konferensi pers tengah malam Panglima TNI bersama dengan panglima dan komandan pasukan khusus masing-masing angkatan, bukan Kepala Staf Angkatan. Tentu saja berpikir ulang, posisinya tidak sekuat Anies Baswedan yang tetap datang.

Waktu itu tidak ada pernyataan dan gigitan kepada Mahfud MD, baru sebulan kemudian itu terlontar. Jika perilaku itu didasari oleh pernyataan Menkopolhukam Mahfud, sejak awal hal itu sudah terkatakan pula.

Malah menjadi tanya, apalagi ada pula rentetan, bagaimana rumah Ibunda Mahfud digeruduk massa, dan kini Mahfud sendiri yang terkena dampak langsung. Apakah dalam satu barisan dengan para penggeruduk? Sangat mungkin.

Hari ini media sosial diwarnai, terima kasih MRS kamu membuat pemilih makin tahu siapa yang mau ditendang untuk 2024. Ridwa Kamil salah satu yang termasuk terlempar dari pembicaraan untuk pilpres mendatang. Ini blunder yang amat malah, hanya karena persoalan Rizieq semata.

Susah melihat ia mendapatkan panggung dengan menendang Mahfud itu. Malah cenderung ia yang terlempar dari panggung karena memang kalah lihai dan kalah kelas dengan Mahfud. Upayanya menyelesaikan kesalahan dengan membalas ciutan Mahfud membuat ia makin dalam terperosok. Bagaimana tidak, ketika ia merasa mengapa hanya daerah yang dimintai pertanggungjawaban dan pusat tidak. Pun menyeret Gubernur Banten yang tidak diusik.

Ada dua hal krusial yang perlu dilihat. Ingat daerah itu selalu teriak otonomi daerah, mengapa ketika ada urusan uang dan masalah meneriaki pusat, tetapi ketika uang itu baik-baik saja, tidak ada masalah pusat jangan ikut campur? Aneh saja model pendekatannya. Siapa yang membuat aturan soal covid? Ada di pemerintah daerah.

Kedua soal menyeret Gubernur Banten, lha mengapa ditanyakan kepada Menkopolhukam, mengapa tidak kepada pihak kepolisian. Ini aneh dan ajaib. Hanya demi menjaga harkat dan kepentingan diri namun malah menjerumuskan diri ke dalam lobang yang lebih dalam. Miris.

Ketika prestasi itu teraih, jabatan akan mengikuti. Berkacalah pada banyak kisah demikian, ada Jokowi, ada Risma, ada Ahok, dan eh Ridwan Kamil yang bisa naik kelas malah kini ikut-ikutan ngaco dengan mainkan narasi politik kepiting. Ala-ala hewan yang demi merangkak naik dengan menginjak rekannya dan menarik kawannya yang sudah di atasnya.

Sayang capaian RK selama di Bandung kini malah mundur. Kedekatan pada ultra kanan malah merugikan sebenarnya. Ke depan pemilih itu makin cerdas dan rasional. Ini malah memainkan narasi sektarian. Aneh dan lucu, ia sukses sebagai walikota dengan citra yang ia bawa sebagai arsitek, membangun kota dengan jiwa dasarnya, memperindah dengan profesinya. Eh ini malah mundur.

Satu lagi, kandidat keren itu malah terlempar karena konsultan politiknya salah. Momentum yang ia ambil salah itu jangan buru-buru diperbaiki, malah makin kacau. Sama juga dengan orang yang terhisap lumpur, biasanya akan panik dan malah makin dalam terhisap. Sangat berbahaya, karena rasio tidak berjalan.

Sayang apa yang ia miliki, ia rintis, dan ia bangun selama ini malah runtuh. Apakah kutukan Rizieq Shihab juga mengintainya? Miris sebenarnya. masih cukup muda, moncer dalam kepemimpinan, dan relatif baik menjaga kebhinekaan. Ternyata, waktu dan keinginan itu mengubah banyak hal.

Padahal hitung-hitungan saja, FPI itu sudah menjelang senja, buat apa membela bak babi buta, malah menyerang dengan tidak kira-kira. Satu lagi kandidat potensial bagi negeri ini akan gugur dan menyerah sebelum sampai pada tujuan. **Susy Haryawan

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: